Papa, piknik yuk?
Atau mau pesta kebun?
Biar kuminta Mama menyiapkan sambel kesukaan kita semua.
Mari melihat dunia luar Papa.
Aku bosan menikmati minggu yang seperti ini lagi seperti ini lagi.
Mama tak memungkinkan mengajakku pergi ke daerah-daerah dengan pohon-pohon hijau.
Papa tau, Mama tak hapal jalan.
Begitu juga aku.
Ternyata aku sangat mirip dengan Mama ya Pa.
Meski sering berbeda pendapat, nyatanya sifat kami mirip sekali.
Pa, ayo makan masakan padang di waru g jelek tapi rasanya sungguh enak itu lagi.
Tunjukkan aku betapa dunia yang kita pijak ini indah keberagamannya.
Papa, ini masih minggu pagi.
Masih ada kesempatan untuk bersiap piknik.
Ayo piknik, Papa.
Minggu, 28 Desember 2014
Papa, mari berwisata!
Sabtu, 27 Desember 2014
Rumah
Terima kasih karena telah menyajikan 'rumah'.
Tempat segala keluh luruh menjauh.
Karenamu, aku jadi peneduh.
Di bawah sayunya matamu.
Aku berlindung dari hal-hal gaduh.
Keteduhan di sorot matamu,
membuar semua onak di kepala bisu.
Gelombang gelisah melambat.
Ketenangan menguat.
Tuan, pemilik sorot mata hangat.
Terima kasih untuk damai yang menguat.
:)
Tentang Pergeseran Rencana Hidup
Entah, ini hanya akan jadi pemikiran sesaat atau selamanya. Beberapa waktu lalu, aku terpikir untuk tidak bekerja di bidang keuangan meski aku Inshaa Allah kelak akan menjadi sarjana ekonomi.
Rasanya aku muak melihat kebodohanku sendiri di bidang ini. Aku sungguh payah. Mungkin aku bisa stress setiap hari karena kecerobohanku.
Maka, aku berpikir untuk bekerja di bidang lain. Jurnalistik? Mungkin saja. Aku hanya ingin bekerja delapan jam sehari. Kelak, aku ingin bekerja dengan tetap menjaga diri agar tetap waras. Melakukan hobby. Berdialog dengan diri sendiri. Aku hanya ingin menjaga agar jiwaku tetap waras.
Aku bahkan terpikir untuk menjadi guru di smaku dulu. Mungkin akan jadi sangat menyenangkan. Setiap hari bernostalgia. Tapi aku tak yakin akan mudah mencimtai seseorang yang baru jika aku sering mencium aroma kenangan semasa sma. Lho kok malah ngalor-ngidul.
Menjadi wirausahawati? Mungkin saja. Tapi tunggu dulu. Menjadi wirausahawati akan kulakukan hanya jika bekalku sudah kurasa cukup. Sungguh bidang ini tidak mudah. Mental ciut akan merobohkan dirimu sendiri. Kelak, ketika kedisiplinanku sudah mumpuni, pengalamanku sudah mencukupi, aku akan membuka usaha.
Oya, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku. Mari bercerita. :)
Jumat, 26 Desember 2014
Tentang Gelisah yang Tak Kunjung Reda
Ini tentang gelisah yang tak jua surut. Entah, rasanya masalah kecilpun jadi menggelisahkan. Kupikir tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dada rasanya sesak. Napasku hembuskan setelah kutarik dalam. Ada ganjalan yang tak bisa kutemukan. Ada takut yang menjalar pelan-pelan, yang justru membuat takut itu menguat. Aku tak tahu kenapa gelisah ini seakan tak mau pergi. Atau aku sudah terlalu jauh dari Genggam-Nya? Kesibukan duniawi membuatku tak punya cukup waktu berdialog panjang lebar dengan-Nya? Itu bisa jadi penyebab. Ah.... mungkin aku hanya kelelahan.
Minggu, 21 Desember 2014
Tentang Sepasang Mata
"Alis matamu; sepasang sayap malaikat nan murung, di bawahnya aku beteduh, menepi dari kefanaan dunia yang gaduh." - @melepaskan -
"Di matanya, aku melihat serbuk-serbuk puisi, seperti taburan kopi, yang diseduh setiap pagi." - @azmo__ -
"Matamu satu-satunya ufuk yang kukenal. Di sana, Tuan, berulang kali surya purnama terbit dan tenggelam." - @aqmarinnaa -
Jumat, 19 Desember 2014
Meluap.
Saya masih senyum-senyum sendiri mengingat terakhir kali saya datang ke tempat kerjamu. Dengan debar yang masih sama kencangnya dengan saat pertama kali kita bertemu. Dari jarak tiga meter saya diam-diam 'menyimak' kamu. Memerhatikan setiap inci pesona kamu. Entah, rasanya menyenangkan melihat kamu. Lucu. Kenapa dari jauh saja rasanya begitu menyenangkan? Bahagiaku meluap Tuan. Rasanya tak cukup hanya kuekspresikan dengan nyanyian. Oleh karenanya saya menulis ini.