Kamis, 29 November 2012
mereka
entah, hingga saat ini saya tidak mengerti, mengapa saya menyayangi mereka.. saya juga tak kunjung tahu, apa yang membuat mereka begitu istimewa di hati saya.. hari-hari saya kurang lengkap tanpa mereka.. walaupun mereka lebih menyebalkan daripada menyenangkan, haha.. tapi saya sudah jatuh hati pada mereka.. hanya dengan bersama mereka, hidup rasanya sudah sempurna.. ya, sebut saja saya berlebihan.. tapi kalian semua pasti memiliki orang-orang seperti mereka di sekeliling kalian.. saya yakin kalian juga merasakan hal yang sama.. panggil mereka, sahabat :)
Rabu, 28 November 2012
Penulis idola; Darwis Tere Liye ❤
saya sangat mengagumi Beliau.. saya sudah jatuh cinta berkali-kali pada tulisan-tulisannya.. saya selalu di bawa ke alam lain saat membaca tulisannya.. Beliau, Darwis Tere Liye.. saya bermimpi, suatu saat tulisan saya akan sama spektakulernya dengan Beliau, syukur-syukur bisa melebihi.. :D
berikut adalah cuplikan-cuplikan yang ada dalam karya-karyanya:
berikut adalah cuplikan-cuplikan yang ada dalam karya-karyanya:
“Orang-orang yg merindu,
namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih
senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi
doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan
yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik.”
—
|
Darwis Tere Liye
|
“Bahwa hidup harus
menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang
benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa
penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat
kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
—
|
Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin.
|
“Walau digengam kuat,
andai ia bukan milik kita, ia terlepas juga. Walau ditolak ke tepi, andai ia
untuk kita, ia mendatang juga. Itulah namanya jodoh”
—
|
Tere Liye
|
“Terkadang dalam banyak
keterbatasan, kita harus sabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus
melakukan apa yang bisa dilakukan”
—
|
Tere Liye
|
“Perasaan itu tidak
sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah
jelas bagai bintang dilangit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan
rumus matematika. Perasaan adalah persaan.”
—
|
Pak Tua dalam Kau, Aku, dan Sepucuk
Angpau Merah oleh TERE LIYE
|
“Perasaan yang terpendam
juga bisa dibilang doa, bukan?”
—
|
Tere Liye- Moga Bunda Disayang Allah
|
“Orang yang memendam
perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua
kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan
banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak
tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”
—
|
Tere Liye
|
Selasa, 27 November 2012
rasa takut yang diam-diam menyelinap dalam sunyi ini, hilang ketika;
rasa takut yang diam-diam menyelinap dalam sunyi ini, hilang ketika;
- aku mengadu manja pada Tuhan
- bersama orang-orang yang kusayang.. mengubah tangis jadi tawa.. melakukan hal-hal gila.. ahh, menyenangkan..
- membaginya denganmu.. itu dulu; saat dunia masih milikku.. :)
Minggu, 25 November 2012
dandelion yang tak pernah kering
hey you there..
hari ini tepat 3bulan dandelion itu kupetik..
takkan pernah kering..
namanya saja dandelion..
mungkin masih ada hubungan saudara dengan edelwis..
entahlah.... mungkin aku perlu mencari tahu asal usul hubungan mereka..
rumitkah ? seperti rasa ini padamu..
absurd kah ? seperti keadaan ini yang membelenggu rindu yang takkan kau jamah..
jika ditanya apa permintaanku hari ini..
dengan cepat ak menyahut: Tuhan, izinkan kami bertemu, sekali lagi..
25November21012 ~~
hari ini tepat 3bulan dandelion itu kupetik..
takkan pernah kering..
namanya saja dandelion..
mungkin masih ada hubungan saudara dengan edelwis..
entahlah.... mungkin aku perlu mencari tahu asal usul hubungan mereka..
rumitkah ? seperti rasa ini padamu..
absurd kah ? seperti keadaan ini yang membelenggu rindu yang takkan kau jamah..
jika ditanya apa permintaanku hari ini..
dengan cepat ak menyahut: Tuhan, izinkan kami bertemu, sekali lagi..
25November21012 ~~
Sabtu, 24 November 2012
rasa yang meletup-letup
Hey you there..
Mau kuberi tahu sesuatu?
Tentang rasa yang meletup-letup ingin kau kunjungi, rindu..
Datanglah, tengok rasa ini untuk beberapa saat saja..
Ia telah lama meraung-raung ingin kau jemput..
Tak bisakah kamu?
Atau memang tidak mau?
Ahh, sudahlah….
Aku hanya ingin merengkumu dalam diamku, dalam doaku..
Aku, Kau, dan Hujan
Aku, Kau, dan Hujan
Aku
harus bagaimana menjelaskannya bahwa ini bukan salahku. Tapi aku juga tidak
menyalahkan siapapun. Sudahlah, ayo dewasalah. Ini salah kita berdua. Aku tidak
menyalahkan Tuhan karena mempertemukanku denganmu, dan karena Dia membuatku jatuh
hati padamu. Yang salah aku, karena terlalu menyukaimu. Dan kau memberi harapan
palsu itu padaku. Apa sulitnya duduk bersama untuk memperbaiki semuanya.
Menjelaskan isi hati dan pikiran masaing-masing, lalu meluruskan
kesalahpahaman. Ahh, kau terlalu pengecut untuk itu!
”Cinta itu super
sekali ya?” tanyaku pada Riska.
”Iya kali. Emang
kenapa? Cintamu buat dia kelebihan berapa ons?” sambar Riska.
”14 kilo!”
jawabku sambil manyun dan beranjak meninggalkan Riska keluar kelas.
Dan, subhanallah! Hujan! Aku diam
sejenak, menyadari betapa luar biasa anugerah Tuhan yang satu ini. Aku maju
beberapa langkah, dan menengadahkan wajahku ke langit. Dan sialnya, memori itu
menyelip di sela-sela kelemahan sistem keamanan hatiku. Kenangan tentang hujan
di sore itu kubiarkan berlari-lari menjejali otakku.
”Wah, kebiasaan
nih anak. Di rumah nggak ada air neng?” kata Riska menyusulku.
”Ayo sini, ujan-ujanan
yuk?” ujarku pada Riska sambil melambaikan tangan.
”Yee, ogah!
Dokter mahal sekarang. Awas kamu, paling abis ini migrain,” kata Riska
memandangiku.
”Yang penting
Allah udah berbaik hati nurunin hujan buatku hari ini. Rasanya plong.
Migrainnya pikir belakangan. Hahaha,” jawabku.
”Dhira,
seragamnya kok basah kenapa?” tanya bu Sari padaku.
”Emm, tadi dari
fotokopi di depan bu, pas mau balik ke sini kehujanan. Hehe” jawabku sambil
nyengir.
”Hemm, alasan!
Habis hujan-hujanan kan ?”
”Nggak kok bu,
beneran deh.”
”Bu Sari tanya
sekarang, kenapa kamu suka hujan?”
”Hujan itu kan anugerah dari Allah
bu yang patut kita syukuri, selama nggak bawa bencana aja. Bukannya
dicaci-maki. Terus disalah artikan sebagai simbol pembawa duka. Saya suka
kasihan sama hujan. Emang hujan salah apa sih sama manusia, kok pada nggak suka
kalau hujan turun,” jawabku ditertawai teman-teman sekelas.
”Ealah nduk-nduk.”
”Mungkin karena
bintang saya kali bu. Bintang saya aquarius bu, kan lambangnya air tuh. Jadi
suka main hujan deh bu. Itu kata temen SMP saya. Hehehe,” kujawab nyleneh.
Tambahan
jam pelajaran bahasa Inggris sore ini selesai. Senangnya aku bisa pulang.
Badanku rasanya mau rontok. Aku terlalu lelah. Kurebahkan tubuhku, mencium-cium
guling kesayanganku.
”Udah salat isya’
dek?” tanya ibuku memasuki kamarku.
”Udah buk, Dhira
istirahat bentar ya? Capek banget. Ada
coklat bubuk nggak buk?”
”Ada dek, mau ibu bikinin
coklat anget?”
”Mau bu, makasih
ya,” jawabku girang.
Saat kupejamkan mataku, aku ingat
peristiwa itu lagi. Sebelumnya dia tidak pernah berkata kasar padaku. Dia
selalu ramah menyambutku. Bertanya bagaimana hariku. Bertanya bagaimana
nilai-nilaiku. Dan hanya dia, laki-laki yang mengerti mengapa aku suka hujan.
Tanpa kusadari, aku bergerak mengambil tumpukan kertas hvs di atas meja
belajarku, dan kemudian menulis sebagian dari isi hatiku.
‘Aku
masih di sini. Di tempat yang sama, dengan perasaan yang sama. Masih bersama
harapan-harapan lama. Yang berbeda adalah, saat ini aku tanpamu.’
Aku
terlalu lelah hingga aku tidur lebih awal. Aku tidak ingat kalau hari ini ulangan
sosiologi, jam pertama! Bagus! Aku belum menyentuh materinya lagi. Selesai salat
subuh, aku membacanya, sebisa mungkin memahami materi-materi ini. Sebenarnya
bangun jam setengah 5 pagi itu kesiangan bagiku, bila dibandingkan dulu. Aku
selalu bangun di sepertiga malam terakhir. Mengadu betapa menyebalkannya
hidupku, tapi juga melapor pada Allah
betapa bahagianya aku masih di beri umur panjang. Dulu dia yang selalu
membangunkanku, mengirimi pesan ‘ayo bangun tahajud!’. Kini tiada lagi. Ya,
tiada lagi.
Dan ulangan
sosiologi kali ini cukup lancar bagiku. Alhamdulilah, Allah memberi aku
kemudahan. Aku sayang Allah J. Tapi maafkan aku Ya Rabb, aku belum bisa berhenti
meyukainya. Maafkan aku yang belum sempurna mencintaiMu. Bahkan membagi cintaku
padaMu. Aku takut murkaMu, tapi beri aku waktu untuk melupakannya.
Aku dan teman-temanku berhamburan
menuju masjid untuk salat dzuhur. Dan perbincangan ‘ngalor-ngidul’ diserambi masjid pun dimulai. Temanku April,
bercerita bahwa, kelasnya baru saja mata pelajaran agama.
Katanya, ”Aku
tadi tanya sama pak Ruslan soal zina mata. Dosa lho kita, kecuali pada tatapan
pertama, setelah kita ngedip udah dosa lho.”
”Lah, terus?
Kalau ngeliatin foto dosa nggak?” respon Ina.
”Katanya sih
nggak, tapi coba aja deh cari hadisnya. Katanya, kalau nggak mau zina mata,
mending khitbah aja.”
”Nah, apaan tu?”
tanyaku.
”Itu proses
setelah ta’aruf, habis kenalan. Jadi kita cuma saling padang , dan ngeliatin muka sama telapak
tangan doang,” jelas April.
”Subhanallah,
apa kita bisa ya?”
Dan perbincangan
itu selesai setelah bel masuk berdering.
Sambil mengendarai motor, di jalan
aku berpikir. Mungkin saat ini aku bukan lagi zina mata. Ya, sejak kelulusannya
beberapa bulan lalu, aku tidak lagi pernah melihatnya. Aku percaya Allah akan
menjaganya, dan dia akan baik-baik saja. Tapi apa Allah benar-benar tidak mengizinkan
kami bertemu.
Ponselku
bergetar. Ada
telepon masuk. Dan di seberang sana
ada suara yang kukenal.
”Assalamualaikum
ukhti.”
”Wa’alaikumussalam
akhi. Apa kabar? Sibuk ya? Sehat kan ?”
aku terlalu mencemaskannya.
”Pelan-pelan
ukhti, nanti keselek hp lho? Maaf setelah peristiwa itu, aku jarang
menghubungimu. Dan persahabatan kita beberapa bulan ini memang merenggang.”
”Kadang aku
marah padamu. Kenapa akhi terlalu pengecut untuk duduk bersama, menjelaskan
semuanya?”
”Kita bukan
muhrim ukhti. Kita memang tidak bisa lagi seperti dulu. Lupakan aku, banyak
sahabat yang menyayangimu, tanpa aku pasti ukhti mampu. Aku bukan sahabat yang
baik bagimu.”
”Kalau ini
maunya akhi, aku bisa apa? Tapi memutus silaturahmi itu nggak baik. Akhi tetap
sahabatku, terserah akhi mau anggap aku apa.”
Tanpa mengucap
salam, aku menutup pembicaraan itu. Hatiku terlalu sakit mendengar
kata-katanya. Apa yang jadi keinginannya sebenarnya? Adakah ini yang terbaik Ya
Rabb? Aku menulis dalam sebuah potongan kertas kecil.
‘Kapasitasku
memang hanya teman. Tapi perasaanku lebih dari teman. Kau ingat? Saat itu, kita
saling padang . Kau
memandangku, dan aku memandangmu. Kau anggap aku sahabatmu, tapi dalam hatiku,
aku berharap suatu hari nanti bisa jadi lebih dari sahabatmu.’
Pembicaraan semalam masih membayangi
hariku. Aku jadi tidak bersemangat. Tapi aku beruntung punya banyak teman yang
menyayangiku. Mungkin katanya benar. ‘tanpanya aku pasti mampu’. Hanya saja,
ada yang kurang menurutku.
Ina : ”Eh dengerin ya. Yang pacaran:
hujan-hujanan sama pacar. Yang pacaran jarak jauh: kehujanan habis nemuin
pacar. Yang jomblo: kesamber petir.”
Fitri : ”Aku punya, aku punya. Yang pacaran:
nonton bola bareng di GBK. Yang jomblo: jadi calo tiketnya.”
Tawa kami
mengalir begitu saja. Menyejukkan siangku yang panas. Apalagi perasaanku yang
tidak cukup baik hari ini. Mereka sumber semangatku, mereka senyumku, mereka
tawaku. Ya, aku sayang mereka, sahabat-sahabatku.
Aha! Jam pertama hari ini mapel agama. Rencananya aku ingin
bertanya banyak hal pada pak Ruslan. Aku suka bertanya pada beliau. Tuturnya
halus, dan tidak pernah marah jika aku bertanya neka-neka, Belum lagi beliau selalu mengulum seulas senyum di
wajahnya. Pelajaran ini jadi sangat menyenangkan saat pak Ruslan menjelaskan
tentang munakahat, atau nikah. Ini jadi topik menarik. Setelah banyak temanku
mengajukan pertanyaan. Sekarang giliranku.
”Pak., apa ada
manusia yang dilahirkan di dunia ini tanpa jodoh?”
Pak Ruslan
tersenyum geli, ”Nak, percayalah bahwa Allah itu memiliki kemampuan luar biasa.
Allah telah mengaturnya rapi. Tiada yang Allah jadikan sendiri atas
kehendakNya, kecuali itu jadi kehendak hamba-Nya sendiri.”
Luar biasa,
super sekali! Tapi karena tadi sudah menguras banyak energi untuk tanya banyak
hal dengan pak Ruslan, aku jadi sangat haus. Tapi aku bertemu seseorang.
Seseorang yang tidak ingin kutemui, bahkan kulihat parasnya. Hatiku terlalu
sakit dibuatnya. Aku terlalu kecewa pada sikapnya. Dia gadis itu, gadis
pemilik, pemilik hatiku. Ya, aku Dhira Annisa menyukai Rafa Kemala, dan Rafa
sudah jadi milik Alia.
”Aku bertemu
Alia di kantin. Kami masih sama. Sama-sama diam dalam perasaan yang
berantakan,” tuturku pada April saat istirahat ke dua.
”Belum damai nih
ceritanya?”
”Kenapa harus
damai? Toh sebelumnya kita nggak pernah ribut. Jangankan ribut, kenal aja belum
pernah.”
”Tapi belum
kenal aja uda nggak bagus kan
hubungannya?” respon April.
”Aku terlalu
kecewa padanya. Dulu aku kira dia ramah dan baik. Bagaimanapun Rafa
mencintainya. Jadi pikirku aku juga harus baik padanya. Rafa sahabatku, berarti
dia kan pacar
sahabatku. Tapi jadinya kok malah kayak cinta segitiga?”
”Ngapain lagi
dibikin segitiga, cinta bukan atap rumah kali,” candanya berusaha membuatku
tersenyum.
”Kadang kau
ingin menjalin pertemanan yang baik sama dia. Tapi belum-belum, lihat aku dari
jauh aja itu mata udah mlotot aja.”
”Emm, aku
dikasih tau Ina. Katanya Alia bikin tugas cerpen, isinya kisah cinta nyata dia
sama Rafa.”
”Kira-kira aku
jadi tokoh penting nggak ya di cerpennya. Jadi orang ke tiga gitu kek?”
”Yakin mau baca?
Aku punya filenya.”
Hatiku lebih sakit lagi setelah
membaca cerpen Alia. Dadaku sesak bukan main. Dugaanku benar, aku jadi tokoh
penting dalam cerpennya, sebagai sahabat kekasihnya yang cukup mengganggu. Aku
tidak sampai menangis menaggapinya, tapi lebih dari itu. Aku hanya bisa
menangis dalam hati. Dia menulis.
Sebelumnya
kami baik-baik saja. Kami bahagia dengan hari-hari kami saat ini. Tapi
belakangan hadir sahabatnya, yang juga menyukainya. Dia merebut perhatian
kekasihku.
Aku tidak ingin
ini jadi kisah cinta segitiga yang terlalu didramatisir oleh pemain-pemainnya. Aku
rela dia bersama Alia. Bukan hal yang mudah memang, tapi sudah satu tahun aku
melaluinya, dan aku mampu.
Aku menekan nomor yang tidak pernah
kusimpan dalam kontak ponselku itu, tapi aku hafal betul.
”Assalamualaikum
akhi.”
”Waalaikumussalam
ukhti. Afwan, ada apa? Nggak belajar?” tanyanya.
”Akhi, langsung
saja. Dhira teramat kecewa padamu dan kekasihmu. Hatiku teramat luka karenanya.
Tapi Dhira sudah memaafkannya walaupun nggak gampang. Dhira sadar diri, kalau
ini salah Dhira. Dhira nggak akan ganggu kalian. Mana mungkin Dhira menggeser
posisinya dari hatimu. Akhi, tolong sampaikan ini padanya.”
”Ukhti, maaf
jika aku dan dia buatmu terluka. Kami tidak pernah sengaja. Ukhti tahu, kita
bertiga saling berkaitan. Aku tidak akan melupakanmu ya ukhti.”
”Dhira yang akan
melupakanmu ya akhi,” tutupku tanpa mengucap salam lagi.
Langit terlalu bersahabat denganku,
sampai-sampai karena hatiku sedang mendung, langit juga menyamaiku. Aku tidak
ingin mengingat semua peristiwa itu lagi, bagiku semuanya sudah berakhir. Aku
tidak ingin menyakiti hati siapapun. Hati Alia, juga hatiku sendiri. Aku sangat
berharap hujan mau turun menghiburku. Ini pelajaran ekonomi, tapi materi
koperasi yang di sampaikan bu Hastin tidak masuk dalam otakku. Aku masih saja
memandangi jendela dan berharap ada bulir-bulir hujan di sana . Dan, ya. Hujan. Aku selalu suka hujan. Aku
lahir saat cuaca cerah berawan, namun tiba-tiba hujan. Kata eyangku, aku ini
anugerah Allah yang turun dari langit seperti halnya hujan. Bukan simbol
pembawa duka seperti yang orang tafsirkan. Eyang kakungku sangat menyayangiku, maklum aku cucu perempuan pertamanya.
Aku suka hujan, karena setelah aku dimarahi ibuku aku hanya bisa main hujan
untuk menghibur diri sambil menunggu bapak pulang bekerja, lalu mengadu
padanya. Aku suka hujan karena dengannya aku bisa berkumpul dengan teman-teman
kecilku. Aku suka hujan karena saat pertama kali mengenal Rafa, kami berteduh
berbatas lapangan basket, ya di depan kelas kami masing-masing. Aku suka hujan
karenanya aku selalu mengingat Rafa. Rafa cinta pertamaku.
Setelah menguluk salam, aku langsung
berteriak memanggil ibu. Setelah ibu muncul dari kamarnya, aku berlari
memeluknya, menciumnya. Sungguh aku tidak ingin melepaskannya. Sebenarnya aku
ingin menangis di pelukannya, aku ingin bercerita banyak hal kepadanya. Seperti
halnya aku berbagi cerita, rasa, bahagia juga duka kepada bapak. Tapi aku tidak
ingin membebani pikiran ibu.
”Dek Dhira
sayang Ibu.”
”Iya nak, ibu
juga sayang kamu.”
Malam ini aku tidur
di kamar ibu. Aku terus memeluknya seperti aku memeluk bapak sebelum beliau
meninggal satu tahun lalu. J
Sahabat-sahabat tercintaku ingin
main ke rumahku, katanya rindu dengan ibuku. Mereka ngobrol ke sana ke mari dengan ibuku.
Hasilnya aku dicuekin.
”Itu lho mbak
Riska, Dhira itu ngantukan. Dikit-dikit ngantuk. Coba aja, jam delapan juga uda
ketap-ketip,” ungkap ibu membeberkan
aibku.
”Iya emang buk,
kalau pas pelajaran jam pertama sampai ke empat kerjaannya nguap aja. Mana bau
lagi,” tambah Riska.
”Mau pada makan
nggak? Ibu beliin soto?,” tanya ibu pada mereka.
”Nggak usah bu,
kenyang. Kita habis makan ayam goyeng
yummy kok. Hehehe” respon April.
”Nggak nawarin
Dhira bu?”
”Kalau kamu
jawabannya pasti iya.”
Tawa sahabat-sahabatku
meledak. Sudah ashar rupanya, kami segera mengambil wudlu untuk salat
berjamaah. Dalam doaku aku berujar.
Ya Rabbku, aku menyadari rahmatMu dekat
denganku. Aku tahu kesedihan ini semata-mata demi mengangkat derajatku. Aku
mengerti betapa Kau menyayangiku. Maka jadikanlah aku lapang menerimanya, agar
kekuatan iman mudah kurengkuh. Ya Rahman, aku mencintaiMu. Lindungi langkahku
agar senantiasa dalam ridloMu. Angkat aku dari kesediahan yang tiada akhir. J
Sahabat-sahabatku
yang biang rusuh ini terheran-heran melihat mataku berkaca-kaca. Segera kuusap
air mataku mengetahui mereka memperhatikanku. April segera memelukku disusul
Riska, Ina, Tika, Fitri, dan Arti. Mungkin mereka heran melihatku menangis.
Biasanya aku jarang menangis. Bahkan saat bapak meninggal, aku masih bisa
tesenyum dan tertawa.
”Kamu nggak akan
sendirian Dhira kebo. Ada
kita kok. Kita sayang kamu,” ucap Arti padaku.
Setelah menghabiskan akhir pekan
bersama ibu dan sahabat-sahabatku tercinta. Hari ini aku harus menjalani
rutinitas padat sebagai siswi kelas XII. Meski akan melelahkan, tapi entah
kenapa hari ini aku sangat bersemangat. Sampai-sampai aku menabrak bu Sari yang
bergegas ke XII IPS5.
”Tuh kan , nabrak-nabrak
saking semangatnya,” kaya bu Sari.
”Saya baca di
facebook. Kita semangat dan senyum bukan hanya saat kita bahagia bu, tapi kita
harus semangat dan senyum dalam keadaan apapun.”
”Gitu dong, anak
ibu harus hebat,” ucap bu Sari sambil memeluk pundakku.
Waw! Baru saja aku ingin moving on. Sepulang sekolah manusia yang
sudah berbulan-bulan tidak kulihat muncul dalam penglihatanku. Ahh aku tidak
suka! Aku sudah mengikhlaskannya bersama hujan, menangis untuk pertama kalinya
karena dia. Dan melihatnya dari kejauhan saja rasanya menyesakkan, meski
terselip helaian bahagia. Aku senang dia sehat dan baik-baik saja. Dan tidak
kuduga dia menghampiriku.
”Assalamualikum
Ra,” sapanya ringan.
”Wa’alaikumussalam.”
Mana mungkin aku
tidak menjawab salam darinya. Aku sudah bertekad mengabaikannya, mengurangi
kadar perasaanku untuknya. Tapi melihatnya siang ini, dengan kemeja warna biru
laut favoritku yang dia pakai, sepatu kets hitam yang paling aku suka darinya.
Tasnya masih motif tengkorak hitam putih itu yang masih sama seperti dulu.
”Dhira masih
suka es krim rasa coklat?” tanyanya melihatku membeli es krim.
”Dhira masih
sama kayak dulu akhi, nggak banyak yang berubah. Dhira masih ceroboh, gampang
ngantuk, pelupa, nggak bisa diem, galak. Masih kayak dulu.”
”Dan masih suka hujan
kan ? Aku
nggak lupa itu.”
”Dhira balik
kelas dulu ya? Assalamualaikum.”
”Dhira. Tetap
semangat, tetap tersenyum, tetap berusaha, tetap bertahan, tetap tegar, tetap
percaya diri.”
Aku berhenti
dari langkah-langkah kakiku yang panjang karena segera ingin menjauh darinya.
Tapi mendengar kata-kata itu, kata-kata yang dulu selalu membuatku bangkit
setelah terjatuh. Rasanya aku ingin berbalik menatapnya dalam-dalam, dan bilang
‘Aku akan jadi seperti yang kau mau. Jadi muslimah
hebat dan mulia ya akhi.’ Sialnya hujan turun di saat yang tidak tepat.
Hujan membuat suasana jadi seperti saat aku mengenalnya pertama kali. Tapi aku
tetap berlalu, beranjak dari tempat itu. Aku bertindak seperti aku tidak
peduli, walau sebenarnya di dalam hatiku tidak demikian. Hey kau, aku ingin
menari bersamamu di bawah hujan. Dengan lirih ku bernyanyi, tapi suaraku
terhantam derai hujan, hingga mungkin dia tidak mendengarnya.
‘Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa
mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna sayang untuk mengakhirinya.
Janganlah berganti. Tetaplah seperti ini.’
Itu
lagu Ipang yang selalu kita nyayikan usai kita menikmati hujan bersama. Kita
menikmatinya berbatas cakawala layer ponsel kami masing-masing. Aku bahagia
bisa menikmati hujan langsung ataupun tidak denganmu. Hujan mau turun saja aku
sudah bahagia. Bagiku, hujan adalah pembawa kedamaian di antara sela-sela
rintiknya. Diam-diam mengguyurku tanpa izin dan permisi. Pengingat sesuatu yang
telah berlalu. I love rain. J
Kau memang
seperti hujan. Tidak selalu datang. Hanya singgah terkadang. Tapi sekejap
kedatanganmu, telah membasahi benakku dengan banyak kenangan. Kau memang
seperti hujan. Yang sesaat kehadiranmu, telah mampu membuatku selalu mengenangmu.
J
18 Oktober 2011 ~~
Langganan:
Postingan (Atom)
