Kamis, 29 November 2012

mereka

entah, hingga saat ini saya tidak mengerti, mengapa saya menyayangi mereka.. saya juga tak kunjung tahu, apa yang membuat mereka begitu istimewa di hati saya.. hari-hari saya kurang lengkap tanpa mereka.. walaupun mereka lebih menyebalkan daripada menyenangkan, haha.. tapi saya sudah jatuh hati pada mereka.. hanya dengan bersama mereka, hidup rasanya sudah sempurna.. ya, sebut saja saya berlebihan.. tapi kalian semua pasti memiliki orang-orang seperti mereka di sekeliling kalian.. saya yakin kalian juga merasakan hal yang sama.. panggil mereka, sahabat :)
 

I l.o.v.e y.o.u all;~~ Fitri Aanasari ~~ Umi Wakhidatus Sholihah ~~ Rina Rachmayani Ika Putri ~~ Mona Tri Artika ~~Nita Apriliyani, Atika Marita ~~ Ema Radhitiya ~~ Nita Nurjanah ~~ Alfina Elok Faeqoh ~~

Rabu, 28 November 2012

Penulis idola; Darwis Tere Liye ❤

saya sangat mengagumi Beliau.. saya sudah jatuh cinta berkali-kali pada tulisan-tulisannya.. saya selalu di bawa ke alam lain saat membaca tulisannya.. Beliau, Darwis Tere Liye.. saya bermimpi, suatu saat tulisan saya akan sama spektakulernya dengan Beliau, syukur-syukur bisa melebihi.. :D
berikut adalah cuplikan-cuplikan yang ada dalam karya-karyanya:


Orang-orang yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik.
Darwis Tere Liye


Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.


Walau digengam kuat, andai ia bukan milik kita, ia terlepas juga. Walau ditolak ke tepi, andai ia untuk kita, ia mendatang juga. Itulah namanya jodoh
Tere Liye


Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus sabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan
Tere Liye


Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang dilangit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah persaan.
Pak Tua dalam Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah oleh TERE LIYE


Perasaan yang terpendam juga bisa dibilang doa, bukan?
Tere Liye- Moga Bunda Disayang Allah


Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
Tere Liye

Selasa, 27 November 2012

rasa takut yang diam-diam menyelinap dalam sunyi ini, hilang ketika;

rasa takut yang diam-diam menyelinap dalam sunyi ini, hilang ketika;

  • aku mengadu manja pada Tuhan
  • bersama orang-orang yang kusayang.. mengubah tangis jadi tawa.. melakukan hal-hal gila.. ahh, menyenangkan..
  • membaginya denganmu.. itu dulu; saat dunia masih milikku.. :)

Minggu, 25 November 2012

dandelion yang tak pernah kering

hey you there..
hari ini tepat 3bulan dandelion itu kupetik..
takkan pernah kering..
namanya saja dandelion..
mungkin masih ada hubungan saudara dengan edelwis..
entahlah.... mungkin aku perlu mencari tahu asal usul hubungan mereka..
rumitkah ? seperti rasa ini padamu..
absurd kah ? seperti keadaan ini yang membelenggu rindu yang takkan kau jamah..
jika ditanya apa permintaanku hari ini..
dengan cepat ak menyahut: Tuhan, izinkan kami bertemu, sekali lagi..

25November21012 ~~



Sabtu, 24 November 2012

rasa yang meletup-letup


Hey you there..
Mau kuberi tahu sesuatu?
Tentang rasa yang meletup-letup ingin kau kunjungi, rindu..
Datanglah, tengok rasa ini untuk beberapa saat saja..
Ia telah lama meraung-raung ingin kau jemput..
Tak bisakah kamu?
Atau memang tidak mau?
Ahh, sudahlah….
Aku hanya ingin merengkumu dalam diamku, dalam doaku..

Aku, Kau, dan Hujan


Aku, Kau, dan Hujan
Aku harus bagaimana menjelaskannya bahwa ini bukan salahku. Tapi aku juga tidak menyalahkan siapapun. Sudahlah, ayo dewasalah. Ini salah kita berdua. Aku tidak menyalahkan Tuhan karena mempertemukanku denganmu, dan karena Dia membuatku jatuh hati padamu. Yang salah aku, karena terlalu menyukaimu. Dan kau memberi harapan palsu itu padaku. Apa sulitnya duduk bersama untuk memperbaiki semuanya. Menjelaskan isi hati dan pikiran masaing-masing, lalu meluruskan kesalahpahaman. Ahh, kau terlalu pengecut untuk itu!
”Cinta itu super sekali ya?” tanyaku pada Riska.
”Iya kali. Emang kenapa? Cintamu buat dia kelebihan berapa ons?” sambar Riska.
”14 kilo!” jawabku sambil manyun dan beranjak meninggalkan Riska keluar kelas.
            Dan, subhanallah! Hujan! Aku diam sejenak, menyadari betapa luar biasa anugerah Tuhan yang satu ini. Aku maju beberapa langkah, dan menengadahkan wajahku ke langit. Dan sialnya, memori itu menyelip di sela-sela kelemahan sistem keamanan hatiku. Kenangan tentang hujan di sore itu kubiarkan berlari-lari menjejali otakku.
”Wah, kebiasaan nih anak. Di rumah nggak ada air neng?” kata Riska menyusulku.
”Ayo sini, ujan-ujanan yuk?” ujarku pada Riska sambil melambaikan tangan.
”Yee, ogah! Dokter mahal sekarang. Awas kamu, paling abis ini migrain,” kata Riska memandangiku.
”Yang penting Allah udah berbaik hati nurunin hujan buatku hari ini. Rasanya plong. Migrainnya pikir belakangan. Hahaha,” jawabku.

”Dhira, seragamnya kok basah kenapa?” tanya bu Sari padaku.
”Emm, tadi dari fotokopi di depan bu, pas mau balik ke sini kehujanan. Hehe” jawabku sambil nyengir.
”Hemm, alasan! Habis hujan-hujanan kan?”
”Nggak kok bu, beneran deh.”
”Bu Sari tanya sekarang, kenapa kamu suka hujan?”
”Hujan itu kan anugerah dari Allah bu yang patut kita syukuri, selama nggak bawa bencana aja. Bukannya dicaci-maki. Terus disalah artikan sebagai simbol pembawa duka. Saya suka kasihan sama hujan. Emang hujan salah apa sih sama manusia, kok pada nggak suka kalau hujan turun,” jawabku ditertawai teman-teman sekelas.
”Ealah nduk-nduk.”
”Mungkin karena bintang saya kali bu. Bintang saya aquarius bu, kan lambangnya air tuh. Jadi suka main hujan deh bu. Itu kata temen SMP saya. Hehehe,” kujawab nyleneh.

Tambahan jam pelajaran bahasa Inggris sore ini selesai. Senangnya aku bisa pulang. Badanku rasanya mau rontok. Aku terlalu lelah. Kurebahkan tubuhku, mencium-cium guling kesayanganku.
”Udah salat isya’ dek?” tanya ibuku memasuki kamarku.
”Udah buk, Dhira istirahat bentar ya? Capek banget. Ada coklat bubuk nggak buk?”
Ada dek, mau ibu bikinin coklat anget?”
”Mau bu, makasih ya,” jawabku girang.
            Saat kupejamkan mataku, aku ingat peristiwa itu lagi. Sebelumnya dia tidak pernah berkata kasar padaku. Dia selalu ramah menyambutku. Bertanya bagaimana hariku. Bertanya bagaimana nilai-nilaiku. Dan hanya dia, laki-laki yang mengerti mengapa aku suka hujan. Tanpa kusadari, aku bergerak mengambil tumpukan kertas hvs di atas meja belajarku, dan kemudian menulis sebagian dari isi hatiku.
            Aku masih di sini. Di tempat yang sama, dengan perasaan yang sama. Masih bersama harapan-harapan lama. Yang berbeda adalah, saat ini aku tanpamu.’
Aku terlalu lelah hingga aku tidur lebih awal. Aku tidak ingat kalau hari ini ulangan sosiologi, jam pertama! Bagus! Aku belum menyentuh materinya lagi. Selesai salat subuh, aku membacanya, sebisa mungkin memahami materi-materi ini. Sebenarnya bangun jam setengah 5 pagi itu kesiangan bagiku, bila dibandingkan dulu. Aku selalu bangun di sepertiga malam terakhir. Mengadu betapa menyebalkannya hidupku, tapi juga melapor pada Allah betapa bahagianya aku masih di beri umur panjang. Dulu dia yang selalu membangunkanku, mengirimi pesan ‘ayo bangun tahajud!’. Kini tiada lagi. Ya, tiada lagi.
Dan ulangan sosiologi kali ini cukup lancar bagiku. Alhamdulilah, Allah memberi aku kemudahan. Aku sayang Allah J. Tapi maafkan aku Ya Rabb, aku belum bisa berhenti meyukainya. Maafkan aku yang belum sempurna mencintaiMu. Bahkan membagi cintaku padaMu. Aku takut murkaMu, tapi beri aku waktu untuk melupakannya.
           
            Aku dan teman-temanku berhamburan menuju masjid untuk salat dzuhur. Dan perbincangan ‘ngalor-ngidul’ diserambi masjid pun dimulai. Temanku April, bercerita bahwa, kelasnya baru saja mata pelajaran agama.
Katanya, ”Aku tadi tanya sama pak Ruslan soal zina mata. Dosa lho kita, kecuali pada tatapan pertama, setelah kita ngedip udah dosa lho.”
”Lah, terus? Kalau ngeliatin foto dosa nggak?” respon Ina.
”Katanya sih nggak, tapi coba aja deh cari hadisnya. Katanya, kalau nggak mau zina mata, mending khitbah aja.”
”Nah, apaan tu?” tanyaku.
”Itu proses setelah ta’aruf, habis kenalan. Jadi kita cuma saling padang, dan ngeliatin muka sama telapak tangan doang,” jelas April.
”Subhanallah, apa kita bisa ya?”
Dan perbincangan itu selesai setelah bel masuk berdering.

            Sambil mengendarai motor, di jalan aku berpikir. Mungkin saat ini aku bukan lagi zina mata. Ya, sejak kelulusannya beberapa bulan lalu, aku tidak lagi pernah melihatnya. Aku percaya Allah akan menjaganya, dan dia akan baik-baik saja. Tapi apa Allah benar-benar tidak mengizinkan kami bertemu.   
Ponselku bergetar. Ada telepon masuk. Dan di seberang sana ada suara yang kukenal.
”Assalamualaikum ukhti.”
”Wa’alaikumussalam akhi. Apa kabar? Sibuk ya? Sehat kan?” aku terlalu mencemaskannya.
”Pelan-pelan ukhti, nanti keselek hp lho? Maaf setelah peristiwa itu, aku jarang menghubungimu. Dan persahabatan kita beberapa bulan ini memang merenggang.”
”Kadang aku marah padamu. Kenapa akhi terlalu pengecut untuk duduk bersama, menjelaskan semuanya?”
”Kita bukan muhrim ukhti. Kita memang tidak bisa lagi seperti dulu. Lupakan aku, banyak sahabat yang menyayangimu, tanpa aku pasti ukhti mampu. Aku bukan sahabat yang baik bagimu.”
”Kalau ini maunya akhi, aku bisa apa? Tapi memutus silaturahmi itu nggak baik. Akhi tetap sahabatku, terserah akhi mau anggap aku apa.”
Tanpa mengucap salam, aku menutup pembicaraan itu. Hatiku terlalu sakit mendengar kata-katanya. Apa yang jadi keinginannya sebenarnya? Adakah ini yang terbaik Ya Rabb? Aku menulis dalam sebuah potongan kertas kecil.
            ‘Kapasitasku memang hanya teman. Tapi perasaanku lebih dari teman. Kau ingat? Saat itu, kita saling padang. Kau memandangku, dan aku memandangmu. Kau anggap aku sahabatmu, tapi dalam hatiku, aku berharap suatu hari nanti bisa jadi lebih dari sahabatmu.’

            Pembicaraan semalam masih membayangi hariku. Aku jadi tidak bersemangat. Tapi aku beruntung punya banyak teman yang menyayangiku. Mungkin katanya benar. ‘tanpanya aku pasti mampu’. Hanya saja, ada yang kurang menurutku.
Ina       : ”Eh dengerin ya. Yang pacaran: hujan-hujanan sama pacar. Yang pacaran jarak jauh: kehujanan habis nemuin pacar. Yang jomblo: kesamber petir.”
Fitri      : ”Aku punya, aku punya. Yang pacaran: nonton bola bareng di GBK. Yang jomblo: jadi calo tiketnya.”
Tawa kami mengalir begitu saja. Menyejukkan siangku yang panas. Apalagi perasaanku yang tidak cukup baik hari ini. Mereka sumber semangatku, mereka senyumku, mereka tawaku. Ya, aku sayang mereka, sahabat-sahabatku.

            Aha! Jam pertama hari ini mapel agama. Rencananya aku ingin bertanya banyak hal pada pak Ruslan. Aku suka bertanya pada beliau. Tuturnya halus, dan tidak pernah marah jika aku bertanya neka-neka, Belum lagi beliau selalu mengulum seulas senyum di wajahnya. Pelajaran ini jadi sangat menyenangkan saat pak Ruslan menjelaskan tentang munakahat, atau nikah. Ini jadi topik menarik. Setelah banyak temanku mengajukan pertanyaan. Sekarang giliranku.
”Pak., apa ada manusia yang dilahirkan di dunia ini tanpa jodoh?”
Pak Ruslan tersenyum geli, ”Nak, percayalah bahwa Allah itu memiliki kemampuan luar biasa. Allah telah mengaturnya rapi. Tiada yang Allah jadikan sendiri atas kehendakNya, kecuali itu jadi kehendak hamba-Nya sendiri.”
Luar biasa, super sekali! Tapi karena tadi sudah menguras banyak energi untuk tanya banyak hal dengan pak Ruslan, aku jadi sangat haus. Tapi aku bertemu seseorang. Seseorang yang tidak ingin kutemui, bahkan kulihat parasnya. Hatiku terlalu sakit dibuatnya. Aku terlalu kecewa pada sikapnya. Dia gadis itu, gadis pemilik, pemilik hatiku. Ya, aku Dhira Annisa menyukai Rafa Kemala, dan Rafa sudah jadi milik Alia.

”Aku bertemu Alia di kantin. Kami masih sama. Sama-sama diam dalam perasaan yang berantakan,” tuturku pada April saat istirahat ke dua.
”Belum damai nih ceritanya?”
”Kenapa harus damai? Toh sebelumnya kita nggak pernah ribut. Jangankan ribut, kenal aja belum pernah.”
”Tapi belum kenal aja uda nggak bagus kan hubungannya?” respon April.
”Aku terlalu kecewa padanya. Dulu aku kira dia ramah dan baik. Bagaimanapun Rafa mencintainya. Jadi pikirku aku juga harus baik padanya. Rafa sahabatku, berarti dia kan pacar sahabatku. Tapi jadinya kok malah kayak cinta segitiga?”
”Ngapain lagi dibikin segitiga, cinta bukan atap rumah kali,” candanya berusaha membuatku tersenyum.
”Kadang kau ingin menjalin pertemanan yang baik sama dia. Tapi belum-belum, lihat aku dari jauh aja itu mata udah mlotot aja.”
”Emm, aku dikasih tau Ina. Katanya Alia bikin tugas cerpen, isinya kisah cinta nyata dia sama Rafa.”
”Kira-kira aku jadi tokoh penting nggak ya di cerpennya. Jadi orang ke tiga gitu kek?”
”Yakin mau baca? Aku punya filenya.”

            Hatiku lebih sakit lagi setelah membaca cerpen Alia. Dadaku sesak bukan main. Dugaanku benar, aku jadi tokoh penting dalam cerpennya, sebagai sahabat kekasihnya yang cukup mengganggu. Aku tidak sampai menangis menaggapinya, tapi lebih dari itu. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Dia menulis.
            Sebelumnya kami baik-baik saja. Kami bahagia dengan hari-hari kami saat ini. Tapi belakangan hadir sahabatnya, yang juga menyukainya. Dia merebut perhatian kekasihku.
Aku tidak ingin ini jadi kisah cinta segitiga yang terlalu didramatisir oleh pemain-pemainnya. Aku rela dia bersama Alia. Bukan hal yang mudah memang, tapi sudah satu tahun aku melaluinya, dan aku mampu.
            Aku menekan nomor yang tidak pernah kusimpan dalam kontak ponselku itu, tapi aku hafal betul.
”Assalamualaikum akhi.”
”Waalaikumussalam ukhti. Afwan, ada apa? Nggak belajar?” tanyanya.
”Akhi, langsung saja. Dhira teramat kecewa padamu dan kekasihmu. Hatiku teramat luka karenanya. Tapi Dhira sudah memaafkannya walaupun nggak gampang. Dhira sadar diri, kalau ini salah Dhira. Dhira nggak akan ganggu kalian. Mana mungkin Dhira menggeser posisinya dari hatimu. Akhi, tolong sampaikan ini padanya.”
”Ukhti, maaf jika aku dan dia buatmu terluka. Kami tidak pernah sengaja. Ukhti tahu, kita bertiga saling berkaitan. Aku tidak akan melupakanmu ya ukhti.”
”Dhira yang akan melupakanmu ya akhi,” tutupku tanpa mengucap salam lagi.

            Langit terlalu bersahabat denganku, sampai-sampai karena hatiku sedang mendung, langit juga menyamaiku. Aku tidak ingin mengingat semua peristiwa itu lagi, bagiku semuanya sudah berakhir. Aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Hati Alia, juga hatiku sendiri. Aku sangat berharap hujan mau turun menghiburku. Ini pelajaran ekonomi, tapi materi koperasi yang di sampaikan bu Hastin tidak masuk dalam otakku. Aku masih saja memandangi jendela dan berharap ada bulir-bulir hujan di sana. Dan, ya. Hujan. Aku selalu suka hujan. Aku lahir saat cuaca cerah berawan, namun tiba-tiba hujan. Kata eyangku, aku ini anugerah Allah yang turun dari langit seperti halnya hujan. Bukan simbol pembawa duka seperti yang orang tafsirkan. Eyang kakungku sangat menyayangiku, maklum aku cucu perempuan pertamanya. Aku suka hujan, karena setelah aku dimarahi ibuku aku hanya bisa main hujan untuk menghibur diri sambil menunggu bapak pulang bekerja, lalu mengadu padanya. Aku suka hujan karena dengannya aku bisa berkumpul dengan teman-teman kecilku. Aku suka hujan karena saat pertama kali mengenal Rafa, kami berteduh berbatas lapangan basket, ya di depan kelas kami masing-masing. Aku suka hujan karenanya aku selalu mengingat Rafa. Rafa cinta pertamaku.

            Setelah menguluk salam, aku langsung berteriak memanggil ibu. Setelah ibu muncul dari kamarnya, aku berlari memeluknya, menciumnya. Sungguh aku tidak ingin melepaskannya. Sebenarnya aku ingin menangis di pelukannya, aku ingin bercerita banyak hal kepadanya. Seperti halnya aku berbagi cerita, rasa, bahagia juga duka kepada bapak. Tapi aku tidak ingin membebani pikiran ibu.
”Dek Dhira sayang Ibu.”
”Iya nak, ibu juga sayang kamu.”
Malam ini aku tidur di kamar ibu. Aku terus memeluknya seperti aku memeluk bapak sebelum beliau meninggal satu tahun lalu. J
           
            Sahabat-sahabat tercintaku ingin main ke rumahku, katanya rindu dengan ibuku. Mereka ngobrol ke sana ke mari dengan ibuku. Hasilnya aku dicuekin.
”Itu lho mbak Riska, Dhira itu ngantukan. Dikit-dikit ngantuk. Coba aja, jam delapan juga uda ketap-ketip,” ungkap ibu membeberkan aibku.
”Iya emang buk, kalau pas pelajaran jam pertama sampai ke empat kerjaannya nguap aja. Mana bau lagi,” tambah Riska.
”Mau pada makan nggak? Ibu beliin soto?,” tanya ibu pada mereka.
”Nggak usah bu, kenyang. Kita habis makan ayam goyeng yummy kok. Hehehe” respon April.
”Nggak nawarin Dhira bu?”
”Kalau kamu jawabannya pasti iya.”
Tawa sahabat-sahabatku meledak. Sudah ashar rupanya, kami segera mengambil wudlu untuk salat berjamaah. Dalam doaku aku berujar.
Ya Rabbku, aku menyadari rahmatMu dekat denganku. Aku tahu kesedihan ini semata-mata demi mengangkat derajatku. Aku mengerti betapa Kau menyayangiku. Maka jadikanlah aku lapang menerimanya, agar kekuatan iman mudah kurengkuh. Ya Rahman, aku mencintaiMu. Lindungi langkahku agar senantiasa dalam ridloMu. Angkat aku dari kesediahan yang tiada akhir. J
Sahabat-sahabatku yang biang rusuh ini terheran-heran melihat mataku berkaca-kaca. Segera kuusap air mataku mengetahui mereka memperhatikanku. April segera memelukku disusul Riska, Ina, Tika, Fitri, dan Arti. Mungkin mereka heran melihatku menangis. Biasanya aku jarang menangis. Bahkan saat bapak meninggal, aku masih bisa tesenyum dan tertawa.
”Kamu nggak akan sendirian Dhira kebo. Ada kita kok. Kita sayang kamu,” ucap Arti padaku.

            Setelah menghabiskan akhir pekan bersama ibu dan sahabat-sahabatku tercinta. Hari ini aku harus menjalani rutinitas padat sebagai siswi kelas XII. Meski akan melelahkan, tapi entah kenapa hari ini aku sangat bersemangat. Sampai-sampai aku menabrak bu Sari yang bergegas ke XII IPS5.
”Tuh kan, nabrak-nabrak saking semangatnya,” kaya bu Sari.
”Saya baca di facebook. Kita semangat dan senyum bukan hanya saat kita bahagia bu, tapi kita harus semangat dan senyum dalam keadaan apapun.”
”Gitu dong, anak ibu harus hebat,” ucap bu Sari sambil memeluk pundakku.
           
            Waw! Baru saja aku ingin moving on. Sepulang sekolah manusia yang sudah berbulan-bulan tidak kulihat muncul dalam penglihatanku. Ahh aku tidak suka! Aku sudah mengikhlaskannya bersama hujan, menangis untuk pertama kalinya karena dia. Dan melihatnya dari kejauhan saja rasanya menyesakkan, meski terselip helaian bahagia. Aku senang dia sehat dan baik-baik saja. Dan tidak kuduga dia menghampiriku.
”Assalamualikum Ra,” sapanya ringan.
”Wa’alaikumussalam.”
Mana mungkin aku tidak menjawab salam darinya. Aku sudah bertekad mengabaikannya, mengurangi kadar perasaanku untuknya. Tapi melihatnya siang ini, dengan kemeja warna biru laut favoritku yang dia pakai, sepatu kets hitam yang paling aku suka darinya. Tasnya masih motif tengkorak hitam putih itu yang masih sama seperti dulu.
”Dhira masih suka es krim rasa coklat?” tanyanya melihatku membeli es krim.
”Dhira masih sama kayak dulu akhi, nggak banyak yang berubah. Dhira masih ceroboh, gampang ngantuk, pelupa, nggak bisa diem, galak. Masih kayak dulu.”
”Dan masih suka hujan kan? Aku nggak lupa itu.”
”Dhira balik kelas dulu ya? Assalamualaikum.”
”Dhira. Tetap semangat, tetap tersenyum, tetap berusaha, tetap bertahan, tetap tegar, tetap percaya diri.”
Aku berhenti dari langkah-langkah kakiku yang panjang karena segera ingin menjauh darinya. Tapi mendengar kata-kata itu, kata-kata yang dulu selalu membuatku bangkit setelah terjatuh. Rasanya aku ingin berbalik menatapnya dalam-dalam, dan bilang ‘Aku akan jadi seperti yang kau mau. Jadi muslimah hebat dan mulia ya akhi.’ Sialnya hujan turun di saat yang tidak tepat. Hujan membuat suasana jadi seperti saat aku mengenalnya pertama kali. Tapi aku tetap berlalu, beranjak dari tempat itu. Aku bertindak seperti aku tidak peduli, walau sebenarnya di dalam hatiku tidak demikian. Hey kau, aku ingin menari bersamamu di bawah hujan. Dengan lirih ku bernyanyi, tapi suaraku terhantam derai hujan, hingga mungkin dia tidak mendengarnya.
‘Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua begitu sempurna sayang untuk mengakhirinya. Janganlah berganti. Tetaplah seperti ini.’
Itu lagu Ipang yang selalu kita nyayikan usai kita menikmati hujan bersama. Kita menikmatinya berbatas cakawala layer ponsel kami masing-masing. Aku bahagia bisa menikmati hujan langsung ataupun tidak denganmu. Hujan mau turun saja aku sudah bahagia. Bagiku, hujan adalah pembawa kedamaian di antara sela-sela rintiknya. Diam-diam mengguyurku tanpa izin dan permisi. Pengingat sesuatu yang telah berlalu. I love rain. J
Kau memang seperti hujan. Tidak selalu datang. Hanya singgah terkadang. Tapi sekejap kedatanganmu, telah membasahi benakku dengan banyak kenangan. Kau memang seperti hujan. Yang sesaat kehadiranmu, telah mampu membuatku selalu mengenangmu. J
18 Oktober 2011 ~~