Jumat, 25 Desember 2015
Aku Akan Menulis Lagi
Berusaha menulis lagi.
Setidaknya aku berusaha jujur dengan aksara.
Karena tak mampu bicara.
Pagi ini, orang-orang merayakan natal.
Dan aku menunggu waktu berangkat kerja.
Masih ada dua setengah jam lagi untuk bercengkrama dengan laptop, headset, dan novel yang tak kunjung selesai kubaca.
Saat ini, Sufjan Stevens - "Death With Dignity" sedang membuat hatiku nyeri.
Entah, setiap kali mendengarnya, aku merasa damai sekaligus nelangsa.
Kata orang-orang pula, menulis adalah bentuk lain dari bicara.
Ada satu hal yang orang lain tak pernah tahu.
Aku bahkan berhenti meminta, oh tidak, lebih tepatnya mengurangi permintaan dengan Tuhan.
Aku malu.
Tak percaya diri.
Merasa tak tahu diri.
Kalau-kalau punya asa terlalu genap.
Kalau-kalau punya harap terlalu lengkap.
Aku berhenti bicara pada banyak orang.
Berhenti berbagi cerita pada banyak teman.
Berhenti berbagi luka pada Mama.
Kau perlu tahu, aku sebenarnya takut.
Aku takut tak lagi mempercayai siapapun.
Bahkan diriku sendiri.
Lalu salah seorang penulis bilang; salah satu tips untuk hidup bahagia adalah tidak lagi memendam perasaan.
Kau tahu apa responku ketika membacanya?
Aku tertawa keras, keras sekali.
Naif sekali penulis ini.
Oh Tuan Penulis, tak sesederhana itu.
Atau aku yang membuatnya tak sederhana?
Memutar-mutar jalur di daerah yang sama?
Apa benar itu yang kulakukan?
Kalau begitu, maafkan.
Baiklah, karena aku telah salah, akan kuturuti kata-katamu.
Mulai sekarang aku akan menulis lagi.
Bicara tanpa suara.
Memeluk aksara.
Mencumbu rasa.
Jujur pada diri sendiri.
Bahwa mengakui jika batin nelangsa adalah tak masalah.
Sungguh tak apa-apa.
Baiklah, akan kulakukan yang kau katakan Tuan Penulis.
Untuk tak lagi memendam segalanya sendirian.
Lalu, apa lagi?
Ada hal lain yang harus kujalani?
Kau punya tips lain untuk bahagia duhai Tuan Penulis?
Kamis, 24 Desember 2015
241215
Tuan, pesonamu menyengat.
Aku takut tak kuat.
Lalu aku berbalik arah, undur diri, melarikan diri atau apapun yang bisa membuatku menghindarimu secepat kilat.
~Syafira yang...............
241215
Duhai Diri
Diriku sendiri salah satunya.
Aku tak begitu suka nasi dingin.
Nasi yang dimasak terlalu kering juga.
Aku tak suka pinggiran roti tawar,
aku tak pernah memakannya.
Aku tak pernah makan ketupat dan opor kala lebaran.
Aku tak suka bawang goreng.
Aku tak suka minuman bersantan.
Aku sama sekali tidak pernah makan daging kambing.
Aku paling anti.
Bakso urat pun aku tak suka.
Meskipun di dunia ini bakso masuk ke dalam daftar mankanan paling ngangenin.
Makanan yang tidak pedas sama sekali tak lirik-able.
Aku pecinta pedas garis keras. Heuheu.
Aku hanya bisa tidur dengan lampu mati.
Lampu menyala waktu tidur bukan pilihan yang tepat bagiku.
Aku tak suka hujan.
Bikin demam.
Sementara banyak pekerjaan harus diselesaikan.
Sendirian.
Iya, sendiri.
Aku tak terlalu tertarik mngikuti perkembangan informasi mengenai; ini pacarnya itu, si A habis putus sama B. Sama sekali bukan urusanku.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku paling jago mendeteksi kebohongan orang. HAHAHA.
Aku tak terlalu tertarik dimanfaatkan.
Meski sering terjadi.
Tak bisa melarikan diri.
Terjebak pada rasa iba yang kadang-kadang batasanya terlampaui.
Wah ya, aku payah sekali.
Orang yang tak suka pada dirinya sendiri sok banyak teori.
Duhai diri.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Siang itu aku datang lagi ke satu-satunya toko buku yang kurasa nyaman di kota kecil ini. Aku asik membaca sampul belakang sebuah buku yang kalau tidak salah berjudul 'Butterfly' yang sayangnya kulupa siapa penulisnya. Lalu tak sengaja aku menoleh saat kamu baru saja tiba. Seragammu masih tertutup jaket hitam. Aku tahu mata kita bertemu, tapi aku tak berniat menyapamu sekadar tersenyum simpul. Aku belum juga menemukan novel yang pas dengan seleraku. Aku berpindah ke rak yang lain mengamati beberapa judul yang menarik. Menyenangkan sekali berada di surga dunia, toko buku. Mencumbu satu persatu buku. Sampai-sampai berjongkok aku menikmati setiap detik di toko buku. Aku bukan tak sadar kalau kamu beberapa kali mondar-mandir menyalakan saklar lampu yang jelas-jelas sudah menyala. Tertawa kecil aku melihatnya. Lalu kamu menyapaku, "Cari buku apa Mbak?."
"Ayu Utami Mas. Belum ketemu, itu komputernya mati. Kalau nyalain takut salah," aku berjalan mengekormu yang sikap mengecek komputer.
Sebentar kamu menoleh, menatapku lalu tersenyum.
"Kamu yang beberapa hari lalu ke sini malem-malem itu kan?"
Aku ingat Mas, sungguh aku mengingatmu tapi justru yang keluar dari mulutku adalah, "Ha? Oiyaaaa benar Mas," berpura-pura tak langsung mengingatnya. Kamu mengetikkan nama penulis yang kusebut.
"Ayu Utami nggak ada stoknya semua Mbak. Mau baca yang apa?"
"Maya."
"Wah sayang banget lagi nggak ada Mbak. Mau baca yang lain aja?"
"Lagi pengen baca 'Maya' Mas," jawabku kecewa.
Yha! Ini kali ke dua kita bertemu dan kamu menyebut nama penulis kesukaanmu itu lagi, penulis keturunan Batak yang sulit keucap namanya. Aku selalu senang mengobrol denganmu. Setidaknya aku merasa kita satu frekuensi, ketika aku membahas tentang Aan Mansyur, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, kamu tahu.
Meski sering kali saat kamu menceritakan tentang penulis tempo dulu tak banyak yang kutahu, kamu tetap menghargai seleraku.
Jumat, 05 Juni 2015
Menahan Dari Keinginan Menjabarkan
Aku akan menyimpan perasaan ini.
Gusti, percayalah, tak akan kuungkapkan.
Apalagi kujelaskan.
Akan tersusun rapi.
Kepingan pertemun pertama hingga terakhir kali siang tadi.
Aku akan menjaganya.
Dari sebatas ingin memiliki.
Dari sebatas angan untuk bersama.
Aku ingin menahannya.
Dari rasa ingin menjabarkan.
Kalau Tuhan mengizinkan, akan tiba waktunya kan?
Senin, 25 Mei 2015
Aku Menyukaimu Penuh
Aku menyukaimu penuh.
Seberkas punggung yang berjalan menjauh.
Aku menyukaimu penuh.
Seseorang yang kelelahan lalu menyeka peluh.
Aku menyukaimu penuh.
Laki-laki yang bekerja keras menantang segenap keluh.
Aku menyukaimu penuh.
Laki-laki yang membuat sederet pertahanan luluh.
Aku menyukaimu penuh.
Laki-laki bermata teduh.
Aku meyukaimu penuh.
Sabtu, 18 April 2015
Aku Sudah Kehilangan Kamu Karena Ulahku
Aku seutuhnya kehilangan seseorang yang mengingatkanku tentang jalan pulang pada Tuhan.
Seseorang yang pernah terang-terangan bilang; hidupmu kurang syukur, hidup ga melulu tentang dunia kan?
Lalu dengan segenap ikhlas aku mengiyakan.
Seseorang yang tak punya mimpi muluk memang, ia tak mengejar banyak hal. Asal selalu dekat Allah, baginya cukup. Sesuatu yang masih belum bisa kuterima di usiaku genap kepala dua.
Seseorang yang tak pernah lelah mengingatkan satu hal; salat.
Seseorang yang paling benci kalau berkendaraku ngebut.
Seseorang yang khawatir ketika jam pulang kerjaku turun hujan.
Aku sudah kehilangan kamu, karena ulahku.
Sabtu, 11 April 2015
Yang Tepat Untuk Kamu Ajak Mendaki
Aku bercerita padamu soal mimpiku, tentang aku yang mendadak mendaki gunung bersamamu. Aku ingat kita saling berbincang sambil sesekali bercanda. Tapi di akhir mimpi, ketika tiba saat pulang, aku kamu tinggal.
Lalu kamu bilang; soalnya waktu turun aku lari.
Ya, aku kini paham bahwa sejak awal kamu paham bahwa aku bukan yang tepat untuk kamu ajak 'mendaki'.
Ya, aku mengerti bahwa sedari awal kamu tahu, aku bukan yang terbaik untuk kamu ajak berjuang.
Mungkin kamu kira aku tak bisa di sampingmu.
Mungkin kamu pikir aku tak mampu berdiri di belakang, menopangmu.
Kamu lebih pintar dari yang aku tahu.
Ya, sepertinya memang benar dugaanmu, aku bukan yang tepat untuk kamu ajak mendaki.
Bukan. :)
Sabtu, 21 Maret 2015
Hidup Senantiasa Berubah
Dari 19 ke 20, hidupku berubah drastis. Aku kehilangan banyak hal sekaligus mendapatkan hal banyak. Tentu, mendapatkan sepaket dengan kehilangan kan? Semesta pasti tahu. Banyak hal yang tak lagi bisa kulakukan karena kesibukan. Banyak tawa yang tak semudah dulu tercetak karena keadaan. Tapi aku tumbuh dewasa karena semua kesulitan. Percayalah, setiap harinya aku mencoba menerima candaan semesta.
Jumat, 06 Maret 2015
Aku Ingin Menangis
Aku ingin menangis karena tak paham bagaimana bisa aku tetap mengharapkan meski tak ada kemungkinan.
Aku ingin menangis karena tak mengerti bagaimana bisa aku tetap bersikeras menunggu meski tak ada kesempatan.
Aku ingin menangis karena bahkan ketika kecewa aku tak menangis.
Aku ingin menagis karena aku bahkan tak bisa menangis.
Rabu, 04 Februari 2015
Teduh, bagaimana jika....
Teduh, hanya dengan menatap matamu, aku merasa digdaya menjalani hariku.
Teduh, hanya dengan mengamati gerak-gerikmu, aku merasa menit-menit ke depan akan ceria.
Teduh, kamu tahu, dua kalimat tadi sungguh berlebihan.
Teduh, aku tak yakin bisa mengatasi kekaguman ini.
Teduh, apa yang harus aku lakukan jika kelak aku tak lagi bisa menahannya?
Teduh, bagaimana jika aku nekad mengatakannya padamu?
Teduh, kamu tahu, beberapa hari ini aku selalu berkompromi dengan diriku sendiri.
Teduh, bagaimana bisa aku melawan segala debar yang selalu datang?
Teduh, I adore you.
Sabtu, 31 Januari 2015
Teduh
Teduh, sore ini aku teringat kamu.
Teduh, tiba-tiba ada debar menyebar.
Teduh, dadaku berdegub.
Teduh, mungkin aku rindu.
Padahal baru kemarin aku menyeduh sorot mata sayumu.
Kamis, 29 Januari 2015
Teduh, ini untukmu~
Teduh, keputusanku ini tepat tidak?
Menjauh dari dia, seseorang yang sedang berjalan mendekat.
Untuk beberapa alasan.
Teduh, untuk apa aku memutuskan bersama jika aku tak merasa sepenuhnya bahagia?
Kata Dee; seseorang semestinya memutuskan untuk bersama karena merasa keutuhannya tercermin bukan karena ketakutannya akan sepi.
Kalau aku memutuskan bersama, sepertinya hanya karena aku tak mau sendiri.
Teduh, keputusanku ini tepat tidak?
Menjauh dari dia, seseorang yang sedang berjalan mendekat.
Karena aku merasa tak seutuhnya diperjuangkan.
Aku merasa dia tak erat menggenggam janji-janjinya.
Teduh, keputusanku ini tepat tidak?
Rabu, 28 Januari 2015
Untuk Teduh Lagi
Teduh, saat ini pukul 19.36 di ponselku, dan aku masih saja merindukan kamu.
Teduh, sebentar lagi aku lepas jam kerja dan aku masih merindukanmu.
Teduh, setiap kali aku lewat tempat kerjamu semakin aku ingin menemuimu.
Teduh, tapi aku tahu aku harus punya kepentingan untuk bisa bertemu kamu.
Teduh, aku semakin merindukanmu setelah menulis entri ini.
Teduh, teduh.....
Teduh.
Selasa, 27 Januari 2015
Untuk Teduh 1
Teduh, setiap hari aku belajar untuk menikmati hidup.
Teduh, setiap hari aku berusaha melihat semua yang terjadi dari sudut pandang sebijak yang aku mampu.
Teduh, setiap hari aku belajar untuk bersikap lebih dewasa.
Teduh, setiap hari aku merindukanmu.
Teduh, setiap hari aku berusaha meredam rindu.
Teduh, setiap hari aku gagal untuk tidak merindukan teduhmu.
Minggu, 11 Januari 2015
Why always been you, Tuan?
Jumat, 02 Januari 2015
Aku tidak tau judul entri ini apa :p
Aku tak punya banyak orang untuk berbagi tentang kamu. Hanya seorang sahabat yg keberadaannya jauh dan seorang sepupu yang juga keberadaannya juga cukup jauh.
Bahagiaku setiap kali bertemu kamu meletup-letup. Tapi tak mampu kubagi. Alhasil kusimpan sendiri, kurasakan dalam hati. Diam-diam. Hanya seuntai senyum yang ku 'pajang' seharian.
Sisa degub debar masih berkeliaran bahkan beberapa jam setelah pertemuan kita. Percakapan kita yang setengahnya tak kumengerti karena kelemahanku di bidang administrasi masih terlintas dan aku sadar, betapa kebodohanku di depanmu itu memalukan.
Tapi lihat, karena ketidaktahuanku, tatap muka kita jadi panjang bukan?
Kamu tak tahu bahwa hatiku 'jingkrak-jingkrak' tak karuan.
Ah kamu, seseorang dengan pesona ajaib yang gerak-geriknya mampu meluluhlantahkan segenap kepercayaan diriku hanya dari jarak empat meter dari aku duduk.
Terima kasih, Mas.
:)