Minggu, 26 Mei 2013

Terima Kasih untuk Teruslah Bermimpi - Ipang


Apa yang kau takutkan
Dengan semua ini
Bukankah kesedihan
Sering kita alami
Keadaan ini
Buat kita terbiasa
Dengarkan ku bicara
Teruslah bermimpi
Walau kenyataannya jauh berbeda
Teruslah bermimpi
Jangan berhenti
Percayalah
Lelah ini hanya sebentar saja
Jangan menyerah
Walaupun tak mudah meraihnya
Menghentikan pikiran dengan mata terpejam
Menunggu malam bisa hapus kenyataan
Biar saja mimpi jauh membawa kita
Tetap tersenyumlah
Biar semakin mudah
Karena kesedihan pun
Ternyata hanya sementara

Terima kasih untuk pencipta lagu ini. Terima kasih banyak. Salam takzim.
Terima kasih telah mengingatkan saya untuk menjaga dan terus menghidupkan mimpi-mimpi saya.
Terima kasih telah.... 
Terima  kasih :)) 

Senin, 20 Mei 2013

My Key Survival



Dalam sakit, luka, gelap, juga kecewa.

Tiap orang pasti mempunyai sosok yang ia jadikan alasan untuk bertahan.

Baik, kusebut mereka; ‘key survival’ ; kunci untuk bertahan hidup.

Mereka mungkin saja orang tua, keluarga, sahabat, atau kekasih.

Bagi saya, ‘mereka’ adalah orang tua, keluarga, dan sahabat yang luar biasa.

(jelas pacar nggak jadi key survival, orang nggak punya :p)

Setelah ngobrol panjang lebar dengan seorang sahabat, saya menemukan sesuatu.

Di usia-usia labil ini, di masa pencarian jati diri ini.

Di saat hati dan rasa sedang tak menentu seperti musim di negeri kita ini.

Saya menyadari satu hal

Setiap orang pasti mempunyai sesuatu yang dipendam dalam hati.

Setiap orang pasti pernah merasa sendiri.

Setiap orang pasti pernah merasa betapa dunia sedang tidak bersahabat.

Setiap orang pasti pernah merasa kecewa terhadap satu hal yang tidak sesuai harapan.

Dan di atas segala perasaan yang pernah ada.

Di atas semua sakit dan kesedihan yang tercipta.

Kita semua butuh ‘mereka’.

Yang perlu dilakukan hanya duduk diam dan mendengarkan.

Sesekali membalas tatapan, hanya untuk meyakinkan betapa diri kita hebat.

Sesekali menepuk pundak, hanya untuk memberitahukan bahwa kita bisa melewati segala panas terik kendala hidup.

Mereka, sosok yang pada akhirnya memeluk kita, menjalarkan kekuatan dalam diri. Kemudian menangis, ikut merasakan tiap luka dan kecewa yang mungkin saja membuncah dalam sukma.

Mereka itu ada. Mereka itu nyata.

Disadari atau tidak, mereka yang menguatkan kita.

Mereka yang membantu kita berdiri lebih tegak.

Mereka yang menyadarkan kita bahwa, kita tidak pernah sendiri.

Mereka yang memberitahukan bahwa dunia ini indah.

Dunia ini penuh warna.

Dan berbagai rasa yang mendera, sungguh hanya bagian kecil dari semesta yang maha luas ini.

Apapun yang kita miliki saat ini.

Apapun yang kita jalani sekarang ini.

Dan apapun rasa yang mendominasi hati.

Kita patut bersyukur bahwa meski kita merasa kita ini bukan siapa-siapa.

Lihat, di sekitarmu, di sekelilingmu.

Masih ada ‘mereka’, sosok yang setulus hati mencinta. Yang hanya ingin suatu saat kita meraih bahagia yang sejati.

Maka, berbahagialah, ‘mereka’ masih ada.

Mereka di sisimu.

Meski tangan tak selalu nyata menggenggam, tapi doa selalu menjaga.

Meski raga tak selalu hadir, tapi doa selalu menemani.

Bahagiakan mereka.

Balas cinta itu dengan segenap kemampuan yang kamu miliki.


Sore. 11mei2013.

Untuk kamu yang (mungkin) sedang merasa sendiri :))



Untuk kamu yang sedang merasa sendiri.

Merasa dunia ini tidak cukup bersikap damai pada kehidupan cintamu.

Pada kamu yang merasa tidak pernah pantas dicintai, atau pada kamu yang merasa tidak pantas disakiti.

Lihatlah, orang-orang di sekitarmu.

Orang-orang yang dengan hatinya menyayangimu.

Melindungimu dan tidak pernah rela jika kamu terluka.

Lihatlah mereka.

Sebentar saja.

Sebentar saja.

Sadari bahwa di dunia ini masih ada cinta.

Pun ketika kisah cintamu tak seindah drama Korea.

Percayalah, kamu berhak bahagia.

Kamu pantas mendapatkannya! Mendapatkan kebahagiaan.

Hanya, apakah kamu bisa menyadarinya atau tidak.

Apakah kamu bisa membacanya atau tidak.

Kamu masih bisa bahagia.

Dengan cinta orang-orang di sekelilingmu.

Dengarkan aku, atau baca tulisanku.

Bahagia itu, m a s i h   a d a.

Cinta itu, j u g a,  m a s i h   a d a.

Sabtu sore. Mendung. 11mei2013.

Sabtu, 11 Mei 2013

Dia Akan Tiba :))




Aku tahu, akan tiba masa di mana seseorang itu muncul. Datang menghampiri.

Menghampiri aku, yang diam-diam telah menunggunya.

Lama. Cukup lama. Menyimpan hati untuk kemudian hanya kuberikan untuknya.

Untuknya, seseorang yang satu species. Satu rasa. Satu jiwa.

Jiwa yang sama anehnya.

Yang sama absurbnya.

Aku tidak peduli kalau-kalau hobby kita berbeda.

Selera musik, film, makanan. Dan apapun.

Aku tidak mempermasalahkannya.

Tapi, yang kuharap satu.

Kamu sama anehnya, dan sama absurbnya denganku.

Hingga kelak saat kita bertemu, kamu tidak menggeleng-gelengkan kepala karena takjub atas betapa ajaibnya aku.

Kamu tidak menghela napas dalam, karena bingung dengan kebiasaan dan pembawaanku yang neka-neka.

Kamu tidak menyerah di awal dan undur diri dari duniaku, dari istana yang kuciptakan seorang diri.

Aku ingin. Kamu menggelengkan kepala karena menyadari kita sama gilanya.

Aku ngin. Kamu menghela napas dalam karena bersyukur bertemu denganku yang sama ‘nggak beresnya’.

Semoga aku bertemu kamu, seseorang yang walau hobby, selera musik, film dan makanannya berbeda. Namun tetap menghargai apa yang aku suka. Menghargai duniaku. Menghargai apa yang selama ini aku kagumi.

Tentang menekjubkannya hujan, ajaibnya kemarau, bintang yang memesona, dandelion yang keren, indahnya pelangi.

Tentang musik kontemporer Payung Teduh, nikmatnya musik jazz ala Endah and Rhesa, dan semangat yang menjalar di tiap lagu Sheila On 7.

Apa itu berlebihan? Kuharap tidak
.
Semoga Tuhan berbaik hati untuk menyimpannya, yang kelak dipertemukan denganku di waktu dan saat yang tepat.

Hai aneh-nya-aku, sampai bertemu.

Pagi.11 Mei 2013.

Minggu, 05 Mei 2013

{putih abu-abu}

ya, masa putih abu-abu emang cuma bisa dikenang..
ngga bisa keulang..
iya..


Rabu, 01 Mei 2013

yang ditunggu....



Arda menepuk bahuku, tiba-tiba muncul dari belakang. Mengagetkanku yang sedang mengerjakan tugas yang mengungkungku beberapa hari di kos, dan dipaksa absen mencari udara segar. Barang menengok toko buku langganan sebentar saja.

”Mblo, nggak laper? Lu ngerjain tugas apa nyusun APBN negara? Serius amat,” cibir Arda.
Aku tidak menaggapi, malah melumat kripik tempe favoritku yang persediannya juga hampir habis.
”Da, nitip kripik tempe ya. Pakai duit Lu dulu, ntar Gue ganti.”

”Nitip Gue mulu. Suruh beliin pacar Lu dong An.”
”Auk ah.”
”Lu mau sampe kapan ngejomblo?”
”Udah 20tahun Lu. Kalau cewek nih ya, setahu Gue nih. Umur 23 juga udah pantes punya suami.”

Aku menyempatkan menoleh ke arahnya, ”Lu mau nggak jadi suami Gue?”
Tawanya terdengar jelas. Sedikit kencang di ruangan yang dibilang lumayan sempit ini.

”Gue boleh ngomong?”
”Lhah, dari tadi ngapain? Bertapa gitu?”
”Tuh kan. Lu edannya nggak ilang-ilang sih An. Makanya jomblo.”
”Teruuuuuss? Aku menanggapi masih dengan melahap keripik tempe yang tinggal beberapa lembar ini.
”Pratiwi Anjani. Mahasiswi tingkat akhir. 20tahun. Jomblo entah dari kapan,” Arda mengucapkannya seperti Pak karno sedang membaca teks proklamasi. Intonasinya, patut dipuji, nada bicara yang menohok sampe ke lapisan hati terdalam. Abaikan!

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah polah sahabatku semenjak kuliah ini. Dia selalu bilang aku ajaib, tanpa sadar, ternyata dia sama ajaibnya. Haha.
”Oya, aneh lagi Lu. Cewek aneh. An, Lu, nggak jelek-jelek amat kali. Masih bisa lah diketok magic dikit.”
Aku menyubitnya, ”Sialan! Sembarangan! Hahaha.”

”Jadi apa sih yang Lu cari selama ini? Orang yang kayak apa? Bilang Gue An, bilang.....”
”Yang sama anehnya,” jawabku ringan.
Dia nampak keheranan.

”Kalau sama-sama aneh, ya biar klop aja gitu. Biar kalau udah saatnya ketemu, dia nggak bakal ngerasa Gue aneh. Soalnya dirinya sendiri juga aneh.”
”Nggak mau cari yang otaknya agak berean dikit gitu? Biar nyeimbangin.”
”Nggak ah, ya kalau boleh minta sih, yang sama-sama aneh aja.”
”Kan sweet,” kataku sambil menarik jaketnya dan kemudian memintanya cepat pulang.