Bukannya
kamu lebih tahu dari siapapun bahwa diamku jauh lebih mengerikan ketimbang mimpi burukmu? Apapun yang kamu katakan, aku
hanya menjawab sekenanya. Tersenyum tipis yang dalam sekejap menghilang dari
wajahku. Aku juga bukannya tak tahu, bahwa kamu tidak suka diamku. Kamu selalu
salah tingkah sendirian. Bingung harus berbuat apa. Tidak tahu harus berkata
apa. Dan kehilangan leleucon untuk membuatku menyerah atas diamku.
Dan
pada akhirnya, kamu menemukan ide cukup segar untuk memutarkan dvd kartun favoritku,
Arnold. Dan hasilnya..... aku masih bertahan dengan aksi diamku.
Sampai pada saat kamu berbalik marah padaku.
”Kamu ini kenapa? Apa aja yang aku lakukan,
kenapa masih diam, nggak bersuara?”
Aku menangkap matanya, yang sama sekali tak
nampak adanya kemarahan di sana. Yang kulihat adalah keputusasaan.
”Kamu putus asa?”
”Ya.”
Aku mendekat padanya,
duduk tepat dihadapannya, ”Jangan buat aku seperti ini lagi ya.”
Dia mengangguk, dan mengecup keningku.
”Tolong tertawa lah seperti biasa. Biacara apa
saja. Aku nggak peduli. Entah itu hal penting atau nggak, entah itu lucu atau
nggak.”
Aku mengusap-usap punggung tangannya tanpa
banyak berkata-kata.
Kamu lagi-lagi bicara, ”Maaf karena udah bentak
kamu kemarin. Aku cuma merasa kamu mengkhawatirkanku terlalu berlebihan.”
”Maaf karena sudah bicara sedikit kasar.”
”Maaf karena belum juga memahami kamu.”
Ya, aku tahu betul. Ada
penyesalan yang dalamnya tak bisa kuperkirakan. Yang pasti, sepertinya begitu
mengganggu pikirannya. Hingga sedari kemarin mengirimiku pesan singkat.
Bertanya basa-basi. Pesan singkat yang terasa kikuk. Pesan singkat yang bernada
tanya, dan sedikit keraguan. Pesan singkat yang tak kujawab barang satu kali,
meski ia mengirim mungkin lebih dari sepuluh.
