Senin, 29 April 2013

diamku..




           Bukannya kamu lebih tahu dari siapapun bahwa diamku jauh lebih mengerikan ketimbang  mimpi burukmu? Apapun yang kamu katakan, aku hanya menjawab sekenanya. Tersenyum tipis yang dalam sekejap menghilang dari wajahku. Aku juga bukannya tak tahu, bahwa kamu tidak suka diamku. Kamu selalu salah tingkah sendirian. Bingung harus berbuat apa. Tidak tahu harus berkata apa. Dan kehilangan leleucon untuk membuatku menyerah atas diamku.

            Dan pada akhirnya, kamu menemukan ide cukup segar untuk memutarkan dvd kartun favoritku, Arnold. Dan hasilnya..... aku masih bertahan dengan aksi diamku.
Sampai pada saat kamu berbalik marah padaku.
”Kamu ini kenapa? Apa aja yang aku lakukan, kenapa masih diam, nggak bersuara?”
Aku menangkap matanya, yang sama sekali tak nampak adanya kemarahan di sana. Yang kulihat adalah keputusasaan.
”Kamu putus asa?”
”Ya.”
Aku mendekat padanya, duduk tepat dihadapannya, ”Jangan buat aku seperti ini lagi ya.”
Dia mengangguk, dan mengecup keningku.
”Tolong tertawa lah seperti biasa. Biacara apa saja. Aku nggak peduli. Entah itu hal penting atau nggak, entah itu lucu atau nggak.”
Aku mengusap-usap punggung tangannya tanpa banyak berkata-kata.
Kamu lagi-lagi bicara, ”Maaf karena udah bentak kamu kemarin. Aku cuma merasa kamu mengkhawatirkanku terlalu berlebihan.”
”Maaf karena sudah bicara sedikit kasar.”
”Maaf karena belum juga memahami kamu.”

Ya, aku tahu betul. Ada penyesalan yang dalamnya tak bisa kuperkirakan. Yang pasti, sepertinya begitu mengganggu pikirannya. Hingga sedari kemarin mengirimiku pesan singkat. Bertanya basa-basi. Pesan singkat yang terasa kikuk. Pesan singkat yang bernada tanya, dan sedikit keraguan. Pesan singkat yang tak kujawab barang satu kali, meski ia mengirim mungkin lebih dari sepuluh.

Aku melepaskan tangannya, ”Tolong, jangan pernah bentak aku lagi.” Kali ini kalimatku, ada senyum diujungnya. Membuat dia yang mendengar dan melihatku barusan, seperti disiram air berliter-liter atas dahaga yang sedari kemarin menyiksa dirinya.

Kamis, 25 April 2013

Tunjukkan Padaku - SHEILA ON 7


Tenangkan resahku
Saat langkahku terasa berat
Teduhkan jiwaku
Saat matahari bersinar terlalu pijar

*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Karna dirimu satu-satunya yang kuandalkan
Saat diriku tak mampu berdiri di sini sendiri
Ceritakan sayang
Hari-hari yang tlah kau lalui
Katakanlah sayang
Semua hal yang kau benci dari diriku
Cobalah cobalah tuk mengerti keadaan ini
Aku rapuh saat kau tinggalkan 

Tunjukkan padaku
Kau selalu mencintaiku
Jadilah pelindung di sayapku
Aku berjanji, aku berjanji
Selalu menemani langkahmu
Dalam setiap helai nafasmu

Bangukan tidurku
Bila kau terjaga lebih dulu

Bergegaslah sayang
Kita isi makna indahnya hari ini

Lagu ini, semacam mars aku waktu SMA.
Mungkin temen  sebangku waktu kelas 11 sama 12 sampai enek dengerin aku nyanyiin ini.
Ini lagu andalan.
Tiap bete, dengerin lagu ini.
Mbuhlah! sik penting aku seneng..
hahaha *cium*

Senin, 22 April 2013

Kepada Sore yang Mempesona :)


Sore ini aku berada di tempat kita biasa bertemu.

Aku duduk diam, melihat ke semua arah, barang kali kamu muncul tiba-tiba di tempat ini lagi.

Aku tersenyum, menertawakan aku yang bodoh.

Aku selalu jatuh cinta pada sore cerah berawan, yang sungguh bersahabat.

Sama persis seperti cuaca sore itu.

Saat kita selalu bertemu.

Kini, aku menikmati keindahan dan kedamaian ini sendiri.

Tanpa ditemani mata indahmu yang diam-diam kunikmati pesonanya.

Aku sangat mencintai sore seperti ini.

Hingga membenci senja yang datang menjemput malam.

Memaksa sore yang memesona ini undur diri.

Terlebih saat pelangi melukiskan dirinya yang melengkung sempurna.

Padanan warna yang elok menakjubkan.

Namun sesaat sirna.

Entah, enyah ke mana.

Seperti kamu, yang tak lagi hadir.

Seperi kamu, yang tak lagi muncul.

Aku rindu pelangi itu.

Aku rindu kamu.

April 2013

Minggu, 14 April 2013

Kasih aku inspirasi.... Kasih.... -,-

Siang tadi aku menonton film korea, judulnya 'Love Fiction'.
Dan tau tidak? Aku menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri.
Pertanyaan yang nggak pernah aku tanyakan ke orang lain, selain diriku sendiri.

Jadi, film ini berkisah tentang penulis yang kehilangan inspirasinya.
Dia kosong. Kayak aku sekarang ini.
Dia nggak bisa nulis apapun.
Tulisannya selalu berhenti di jalan, atau malah mentok di judul.
Persis. Bedanya dia udah beneran jadi penulis. Dan aku masih bermimpi jadi penulis.

Dan ngutip dialog di film tadi, si penulis itu bilang; "Aku perlu seseorang yang bisa menginspirasiku"
Dan yak! Kalimat ini udah jadi jawaban yang selama ini aku cari (serius ini bukan kode)

Udah dua bulan aku nggak nulis apa-apa.
Bukannya sama sekali nggak berusaha nulis.
Tapi tulisanku buntu di tengah.
Satu cerpenpun aku nggak sanggup.

Tahu nggak rasanya gimana?
Hampaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget.
Sepi.
Hambar.
Kosong.
Aku kayak kehilangan sesuatu.
Damn!

Kalau dugaanku, sekarang ini aku lagi mati rasa.
Nggak seneng, nggak sedih.
Nggak lagi jatuh cinta, juga nggak lagi patah hati.
Gagal move on? Oh itu kemarin.
Sekarang sudah mulai bisa. In progres bro *kedip*

Jadi, dalam hati (kalau sekarang udah nggak dalam hati, soalnya udah ke post di blog)
I hope I can in love again.
After a long, long time.

Sekian. (Tuh kan buntu lagi, pfft)


akukudupiye????

Rabu, 03 April 2013

Hello Goodbye, my.... :)

Hai, selamat sore.
Kotaku hujan, bagaimana kotamu?
Sudah beberapa waktu tidak menyapamu.
Apa kabar?
Semoga baik.
Aku akan mengatakannya di sini, semoga kamu membacanya.
Walau kemungkinan kecil kamu membuka blogku.
Hampir mustahil.
Aku takkan lama.
Tapi bila aku lupa dan bicara terlalu banyak.
Tolong biarkan.
Yang perlu kamu lakukan hanya membacanya.
Bukankah tidak sulit?
Baik, aku mulia ya.
Aku hanya akan mengucapkan terima kasih untuk tiga tahun sudah mengisi satu bagian penting dalam diriku.
Memenuhinya hingga tak mengizinkannya dihuni oleh yang lain.
Kecuali keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kukasihi lainnya.
Terima kasih untuk kenangan dan inspirasinya.
Aku tidak akan melupakannya.
Bagiku, masa lalu ada bukan untuk dihapus.
Akan sulit melakukannya, percaya aku.
Aku tidak akan membencimu, tidak.
Tapi bukankah hidup harus bergerak maju.
Karena itu aku berhenti.
Kupikir cukup.
Aku akan memulai hal-hal baru yang semoga lebih baik lagi.
Maka hidupku akan bergerak maju.
Mana mungkin terjadi bila aku masih jalan di tempat, lelah sendirian.
Maaf karena terlalu keras kepala untuk menyerah.
Mungkin aku terlalu bodoh untuk sekadar menyadari bahwa aku harus berhenti di awal.
Sebelum semuanya terlanjur.
Lihat, aku sudah banyak bicara.
Mengetik kalimat-kalimat yang takkan kamu baca.
Biarkan saja.
Aku masih ingin melanjutkannya.
Izinkan aku melanjutkan.
Selamat menjalani hidupmu.
Hari-hari ke depan aku takkan menanyakan kabarmu lagi.
Di masa-masa selanjutnya semoga aku bahagia.
Ah, syukurlah aku mulai lupa apa yang ingin aku sampaikan.
Aku berharap kita tidak bertemu lagi.
Tapi jika memang kita harus bertemu, semoga silaturahmi kita baik.
Hallo, selamat tinggal :)