Selasa, 25 Februari 2014

Mari Bercerita~

Hai mata teduh.
Mari bercerita.
Akan kuseduhkan segelas milo panas.
Di teras rumahku
Pada senja yang dengan anggun tiba.
Aku ingin berdua.
Bicara tentang arah mata angin yang tidak juga kumengerti di usiaku kini.
Yang membuatku nampak konyol di depanmu.
Akan kuceritakan tentang 'buku itu'.
Oiya, apa kamu telah tuntas membacanya?
Pinjami aku.
Kelak, aku akan meminjamimu kumpulan cerpen; 'Perempuan yang Melukis Wajah' bukan 'Perempuan yang Menunggu Hujan' aku salah menyebutnya waktu itu.
Tunggu sampai aku menemukannya ya.
Lain waktu, buatkan aku segelas teh panas lagi.
Semoga Tuhan meridhoi inginku.

#hujandimalamminggu
#okesabtumalam
#220214

Untuk Kamu :)

Aku tahu,
Ada beban yang kamu simpan.
Yang coba kamu topang sendirian.
Yang mati-matian kamu sembunyikan.
Sayangnya aku menemukannya, Sayang.
Pada sendunya matamu.
Pada redupnya semangatmu.
Sini, mendekatlah.
Bersandarlah.
Aku akan mendengarkanmu.
Coba, bagikan ceritamu.
Biar bias sesakmu.
Atau jika kamu tak mau.
Kamu hanya cukup tahu.
Bahwa kamu tidak sendirian.
Kali ini, akan kujabarkan.
Ada doa yang kupanjatkan diam-diam.
Untukmu.
Demi ketabahanmu.
Supaya ditambahkan kekuatanmu.
Agar dilapangkan sabarmu.
Sabar Sayang, sabar.


duapuluhdua februari duaribuempatbelas~

Senin, 17 Februari 2014

Hai Mata Teduh~

Hai mata teduh, lama aku tidak menyapa.
Hari ini aku amat bersyukur.
Ada celah untuk bahagia hari ini.
Apa yang kuperjuangkan selama ini berbuah manis.
Ada kelegaan yang menebus ketegangan.
Setelah tahu hasilnya memuaskan.
Terima kasih, sudah banyak memotivasi.

Sabtu, 15 Februari 2014

Adakah Kita


Adakah kita, tak lagi bisa.
Mencipta satu saja pertemuan.
Sambil memperingati pertemanan maya yang ada.
Akan kuseduhkan segelas milo 3 in 1.
Maka dengan itu, kita nyata jadinya.

Adakah kita, duduk berdua di teras rumahku.
Bicara tentang banyak hal.
Ini itu.
Sambil sesekali mencetak tawa.

Ah sudahlah, tak mungkin khayal itu.
Sepertinya Tuhan takkan memberi restu.

Kamis, 13 Februari 2014

Kumulai dengan Memaafkan Diriku Sendiri

Kata orang, sabar itu bukan pilihan, tapi sabar itu keputusan.
Sepertinya kalimat tadi benar.
Maka, jika ada yang bilang, sabar itu ada batasnya.
Mungkin orang itu tidak memutuskan untuk bersabar lebih lama.
Mungkin saja.
Tapi seringnya, saya lebih banyak membatasi sabar itu sendiri secara tidak langsung.
Dengan apa? Dengan mengaduh, mengeluh.
Sementara sebenarnya, saya masih bisa bertahan dengan diringi sabar lebih lama lagi.
Saya kerap mengumpat diri saya sendiri.
'Kenapa sabarmu sebatas itu?' kata hati saya pada diri saya sendiri.
Apa kekuatanmu seminim itu untuk berjuang lebih keras lagi?
Apa kemauanmu untuk melawan keterbatasan hanya segitu?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali muncul saat saya terkepung sunyi.
Waktu saya sendiri.
Pada saat saya berpikir menerawang kejadian yang telah ada.
Sebagian tentang kesedihan, kekecewaan juga kehilangan.
Pikiranku melompat-lompat tak beraturan.
Dada mulai sesak.
Aku takut perasaan marah terhadap diriku sendiri tak terkendali.
Maka mataku memejam.
Menyadari bahwa mungkin ada yang kurang tepat.
Aku tak bilang ada yang salah.
Aku harus memulai awal yang baru.
Awal yang membawaku bangkit kelak.
Kumulai dengan.... memaafkan diriku sendiri.

Selasa, 11 Februari 2014

Selamat berjuang, Selamat berusaha! Mungkin benar; semua akan baik-baik saja. :))

Kamu pernah baca 'Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin' karya Darwis Tere Liye?
Kurang lebih seperti ini garis besarnya; pada kehidupan, pada jalan yang telah Tuhan tentukan. Kita hanya perlu mengikuti arahnya. Katakan saja pasrah. Tunggu, jangan buru-buru menyanggah. Dalam hal mengikuti arahnya, kamu harus melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Bukan hanya mengalir, bukan hanya patuh. Ada hal-hal yang memang seyogyanya kita terima. Ada kejadian-kejadian yang mungkin memang harus terjadi pada kita. Dan kita hanya harus menciptakan pemahaman searif mungkin. Tentang mungkin ini adalah jalan terbaik, skenario maha keren dari Tuhan. Kita mungkin hanya harus menjadi daun yang bijak, yang menerima keadaan dengan penuh keikhlasan pada masanya ia jatuh. Ia tak pernah membenci angin.

Dan saya, saya sedang berusaha sekuat yang saya mampu. Semampu kekuatan saya untuk jadi daun-yang-bijak itu. Pada cerita yang harus saya lakoni, pada keadaan yang harus saya jalani. Saya sedang berusaha menerimanya dengan pemahaman yang sedang saya rancang baik-baik. Bahwa meski kita sudah melakukan yang terbaik, bahwa walaupun kita sudah merasa memberikan segala kemampuan yang kita punya. Ada saja hal yang tidak sesuai keinginan kita. Ada hal yang tidak sesuai rencana. Maka, apa yang bisa kita lakukan? Tentu! Mengubah keadaan jadi lebih baik. Mencipta keadaan sesuai apa yang kita harapkan. Dengan jadi manusia yang lebih baik lagi. Dengan hati yang lebih lapang lagi. Dengan ketulusan yang lebih dalam lagi. Kita bisa membuat keadaan seperti semula, saat bahagia masih memeluk kita. Saat hanya senyum dan tawa yang kita persembahkan buat orang-orang terdekat. Bukan air mata.

Jadi, untuk kamu yang merasa dunia sedang tak bersahabat. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula hanya jika kamu percaya pada dirimu sendiri. Pada kekuatanmu untuk bangkit. Pada Tuhan yang akan selalu menggenggam. Kalaupun kamu merasa tak sanggup, pandang wajah orang-orang yang selalu mendukungmu. Ada kekuatan pada raut wajah mereka. Ada harapan yang akan timbul lagi dalam dada.

Sampaikan pada Tuhan keluh kesahmu. Pintalah maaf-Nya. Mungkin ada kelalaianmu. Pasti ada maaf-Nya. Jangan lupa, mohonlah Dia untuk selalu menjaga. Meski sebenarnya tanpa kamu minta, Dia akan selalu menemani meski kadang kamu alpa tentang kebaikan-Nya.

Selamat berjuang untuk kamu, siapapun kamu.
Selamat membangun pemahaman yang bijak tentang jalan hidupmu sendiri.
Selamat berusaha untuk jadi lebih arif.
Ada Tuhan yang akan selalu menyertai setiap langkahmu.