Bagi
saya, dia lebih dari cukup untuk diperjuangkan.
Keteguhan
dan kesabaran hatinya.
Sudut
pandangnya yang begitu lugu.
Dia
hampir selalu memandang orang dengan penilaian positif, tak peduli jika
setelahnya ia menyadari bahwa tidak semua orang baik.
Ia
hanya benci orang yang tidak ramah.
Saya
hadir untuk meredam pikirannya yang riuh.
Membungkam
seluruh cemas yang ia peluk.
Perempuan
ini, selalu menempatkan bahagia orang lain di atas bahagianya sendiri.
Mana
pernah ia tidak memikirkan orang lain.
Puan,
tenang saja.
Aku
ada.
---
Tuan,
terima kasih karena di bawah sayunya matamu, segala cemasku tak berani
bersuara.
Mereka
tergantikan riuh debar yang tersebar.
Meski
telah mengenalmu lama, debarku masih sama.
Tuan,
aku akan jadi peneduh yang rajin berteduh di bawah matamu.
Berlindung
dari segala takut yang mendera.
Aku
akan menyeka setiap lelah yang mengganggumu dan tak mau mengalah.
Aku
akan untai pucuk demi pucuk doa bagi bahagiamu.
Dukunganku
untuk segala yang kamu perjuangkan.
Terima
kasih untuk segalanya ya.
Aku
menyukaimu penuh.
Aku,
penggemar mata sendumu.