Minggu, 30 November 2014

Tuan dan Puan



Bagi saya, dia lebih dari cukup untuk diperjuangkan.
Keteguhan dan kesabaran hatinya.
Sudut pandangnya yang begitu lugu.
Dia hampir selalu memandang orang dengan penilaian positif, tak peduli jika setelahnya ia menyadari bahwa tidak semua orang baik.
Ia hanya benci orang yang tidak ramah.
Saya hadir untuk meredam pikirannya yang riuh.
Membungkam seluruh cemas yang ia peluk.
Perempuan ini, selalu menempatkan bahagia orang lain di atas bahagianya sendiri.
Mana pernah ia tidak memikirkan orang lain.
Puan, tenang saja.
Aku ada.

 ---


 Tuan, terima kasih karena di bawah sayunya matamu, segala cemasku tak berani bersuara.
Mereka tergantikan riuh debar yang tersebar.
Meski telah mengenalmu lama, debarku masih sama.
Tuan, aku akan jadi peneduh yang rajin berteduh di bawah matamu.
Berlindung dari segala takut yang mendera.
Aku akan menyeka setiap lelah yang mengganggumu dan tak mau mengalah.
Aku akan untai pucuk demi pucuk doa bagi bahagiamu.
Dukunganku untuk segala yang kamu perjuangkan.
Terima kasih untuk segalanya ya.
Aku menyukaimu penuh.
Aku, penggemar mata sendumu.