Sabtu, 31 Januari 2015

Teduh

Teduh, sore ini aku teringat kamu.
Teduh, tiba-tiba ada debar menyebar.
Teduh, dadaku berdegub.
Teduh, mungkin aku rindu.
Padahal baru kemarin aku menyeduh sorot mata sayumu.

Kamis, 29 Januari 2015

Teduh, ini untukmu~

Teduh, keputusanku ini tepat tidak?
Menjauh dari dia, seseorang yang sedang berjalan mendekat.
Untuk beberapa alasan.
Teduh, untuk apa aku memutuskan bersama jika aku tak merasa sepenuhnya bahagia?
Kata Dee; seseorang semestinya memutuskan untuk bersama karena merasa keutuhannya tercermin bukan karena ketakutannya akan sepi.
Kalau aku memutuskan bersama, sepertinya hanya karena aku tak mau sendiri.

Teduh, keputusanku ini tepat tidak?
Menjauh dari dia, seseorang yang sedang berjalan mendekat.
Karena aku merasa tak seutuhnya diperjuangkan.
Aku merasa dia tak erat menggenggam janji-janjinya.

Teduh, keputusanku ini tepat tidak?

Rabu, 28 Januari 2015

Untuk Teduh Lagi

Teduh, saat ini pukul 19.36 di ponselku, dan aku masih saja merindukan kamu.
Teduh, sebentar lagi aku lepas jam kerja dan aku masih merindukanmu.
Teduh, setiap kali aku lewat tempat kerjamu semakin aku ingin menemuimu.
Teduh, tapi aku tahu aku harus punya kepentingan untuk bisa bertemu kamu.
Teduh, aku semakin merindukanmu setelah menulis entri ini.
Teduh, teduh.....
Teduh.

Selasa, 27 Januari 2015

Untuk Teduh 1

Teduh, setiap hari aku belajar untuk menikmati hidup.
Teduh, setiap hari aku berusaha melihat semua yang terjadi dari sudut pandang sebijak yang aku mampu.
Teduh, setiap hari aku belajar untuk bersikap lebih dewasa.
Teduh, setiap hari aku merindukanmu.
Teduh, setiap hari aku berusaha meredam rindu.
Teduh, setiap hari aku gagal untuk tidak merindukan teduhmu.

Minggu, 11 Januari 2015

Why always been you, Tuan?

Why always been you, Tuan bermata ajaib?
Mata yang tatapannya sederhana.
Namun melekat.
Erat.
Teduhnya memikat.

Why always been you, Tuan bermata sayu?
Mata yang sorotnya tenang.
Yang damainya tergenang.
Kukenang.

Why always been you, Tuan?

Jumat, 02 Januari 2015

Aku tidak tau judul entri ini apa :p

Aku tak punya banyak orang untuk berbagi tentang kamu. Hanya seorang sahabat yg keberadaannya jauh dan seorang sepupu yang juga keberadaannya juga cukup jauh.

Bahagiaku setiap kali bertemu kamu meletup-letup. Tapi tak mampu kubagi. Alhasil kusimpan sendiri, kurasakan dalam hati. Diam-diam. Hanya seuntai senyum yang ku 'pajang' seharian.

Sisa degub debar masih berkeliaran bahkan beberapa jam setelah pertemuan kita. Percakapan kita yang setengahnya tak kumengerti karena kelemahanku di bidang administrasi masih terlintas dan aku sadar, betapa kebodohanku di depanmu itu memalukan.

Tapi lihat, karena ketidaktahuanku, tatap muka kita jadi panjang bukan?
Kamu tak tahu bahwa hatiku 'jingkrak-jingkrak' tak karuan.

Ah kamu, seseorang dengan pesona ajaib yang gerak-geriknya mampu meluluhlantahkan segenap kepercayaan diriku hanya dari jarak empat meter dari aku duduk.

Terima kasih, Mas.
:)