Rabu, 20 Januari 2016

Mengenai Sebuah Pertemuan yang Melahirkan Pemahaman

Sebagian diriku mensyukuri pertemuan tadi.

Setidaknya kami sama-sama tahu bahwa kami telah berdamai dengan masa lalu.

Tidak.

Kami telah berdamai dengan diri kami masing-masing.

Sebagian dariku menyesali pertemuan tadi.

Bagaimana jika muncul candu?

Toh dia masih seperti dulu.

Selalu jadi teman bercerita yang menyenangkan.

Tapi kuakui, kali ini dia lebih dewasa.

Membiarkanku biacara panjang lebar.

Baru dia berujar.

Dia kini lebih tenang.

Aku pun.

Mata kami tak lagi melarikan diri.

Beberapa kali titik focus kami pasrah bertemu.

Begitu saja.

Tak ada ragu.

Ya.. ya, memang benar dia cinta pertama.

Meski tak menjadi yang selamanya.

Terima kasih.



Jumat, 25 Desember 2015

Aku Akan Menulis Lagi

Pagi ini aku mulai berusaha lagi.
Berusaha menulis lagi.
Setidaknya aku berusaha jujur dengan aksara.
Karena tak mampu bicara.

Pagi ini, orang-orang merayakan natal.
Dan aku menunggu waktu berangkat kerja.
Masih ada dua setengah jam lagi untuk bercengkrama dengan laptop, headset, dan novel yang tak kunjung selesai kubaca.

Saat ini, Sufjan Stevens - "Death With Dignity" sedang membuat hatiku nyeri.
Entah, setiap kali mendengarnya, aku merasa damai sekaligus nelangsa.

Kata orang-orang pula, menulis adalah bentuk lain dari bicara.
Ada satu hal yang orang lain tak pernah tahu.
Aku bahkan berhenti meminta, oh tidak, lebih tepatnya mengurangi permintaan dengan Tuhan.
Aku malu.
Tak percaya diri.
Merasa tak tahu diri.
Kalau-kalau punya asa terlalu genap.
Kalau-kalau punya harap terlalu lengkap.

Aku berhenti bicara pada banyak orang.
Berhenti berbagi cerita pada banyak teman.
Berhenti berbagi luka pada Mama.

Kau perlu tahu, aku sebenarnya takut.
Aku takut tak lagi mempercayai siapapun.
Bahkan diriku sendiri.

Lalu salah seorang penulis bilang; salah satu tips untuk hidup bahagia adalah tidak lagi memendam perasaan.
Kau tahu apa responku ketika membacanya?
Aku tertawa keras, keras sekali.
Naif sekali penulis ini.
Oh Tuan Penulis, tak sesederhana itu.
Atau aku yang membuatnya tak sederhana?
Memutar-mutar jalur di daerah yang sama?
Apa benar itu yang kulakukan?
Kalau begitu, maafkan.

Baiklah, karena aku telah salah, akan kuturuti kata-katamu.
Mulai sekarang aku akan menulis lagi.
Bicara tanpa suara.
Memeluk aksara.
Mencumbu rasa.
Jujur pada diri sendiri.
Bahwa mengakui jika batin nelangsa adalah tak masalah.
Sungguh tak apa-apa.

Baiklah, akan kulakukan yang kau katakan Tuan Penulis.
Untuk tak lagi memendam segalanya sendirian.

Lalu, apa lagi?
Ada hal lain yang harus kujalani?
Kau punya tips lain untuk bahagia duhai Tuan Penulis?



Kamis, 24 Desember 2015

241215

Tuan, pesonamu menyengat.


Aku takut tak kuat.


Lalu aku berbalik arah, undur diri, melarikan diri atau apapun yang bisa membuatku menghindarimu secepat kilat.


~Syafira yang...............
241215


Duhai Diri

Aku tidak menyukai banyak hal.
Diriku sendiri salah satunya.

Aku tak begitu suka nasi dingin.
Nasi yang dimasak terlalu kering juga.
Aku tak suka pinggiran roti tawar,
aku tak pernah memakannya.
Aku tak pernah makan ketupat dan opor kala lebaran.
Aku tak suka bawang goreng.
Aku tak suka minuman bersantan.
Aku sama sekali tidak pernah makan daging kambing.
Aku paling anti.
Bakso urat pun aku tak suka.
Meskipun di dunia ini bakso masuk ke dalam daftar mankanan paling ngangenin.
Makanan yang tidak pedas sama sekali tak lirik-able.
Aku pecinta pedas garis keras. Heuheu.
Aku hanya bisa tidur dengan lampu mati.
Lampu menyala waktu tidur bukan pilihan yang tepat bagiku.
Aku tak suka hujan.
Bikin demam.
Sementara banyak pekerjaan harus diselesaikan.
Sendirian.
Iya, sendiri.
Aku tak terlalu tertarik mngikuti perkembangan informasi mengenai; ini pacarnya itu, si A habis putus sama B. Sama sekali bukan urusanku.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku paling jago mendeteksi kebohongan orang. HAHAHA.
Aku tak terlalu tertarik dimanfaatkan.
Meski sering terjadi.
Tak bisa melarikan diri.
Terjebak pada rasa iba yang kadang-kadang batasanya terlampaui.
Wah ya, aku payah sekali.
Orang yang tak suka pada dirinya sendiri sok banyak teori.
Duhai diri.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Siang itu aku datang lagi ke satu-satunya toko buku yang kurasa nyaman di kota kecil ini. Aku asik membaca sampul belakang sebuah buku yang kalau tidak salah berjudul 'Butterfly' yang sayangnya kulupa siapa penulisnya. Lalu tak sengaja aku menoleh saat kamu  baru saja tiba. Seragammu masih tertutup jaket hitam. Aku tahu mata kita bertemu, tapi aku tak berniat menyapamu sekadar tersenyum simpul. Aku belum juga menemukan novel yang pas dengan seleraku. Aku berpindah ke rak yang lain mengamati beberapa judul yang menarik. Menyenangkan sekali berada di surga dunia, toko buku. Mencumbu satu persatu buku. Sampai-sampai berjongkok aku menikmati setiap detik di toko buku. Aku bukan tak sadar kalau kamu beberapa kali mondar-mandir menyalakan saklar lampu yang jelas-jelas sudah menyala. Tertawa kecil aku melihatnya. Lalu kamu menyapaku, "Cari buku apa Mbak?."
"Ayu Utami Mas. Belum ketemu, itu komputernya mati. Kalau nyalain takut salah," aku berjalan mengekormu yang sikap mengecek komputer.
Sebentar kamu menoleh, menatapku lalu tersenyum.
"Kamu yang beberapa hari lalu ke sini malem-malem itu kan?"
Aku ingat Mas, sungguh aku mengingatmu tapi justru yang keluar dari mulutku adalah, "Ha? Oiyaaaa benar Mas," berpura-pura tak langsung mengingatnya. Kamu mengetikkan nama penulis yang kusebut.
"Ayu Utami nggak ada stoknya semua Mbak. Mau baca yang apa?"
"Maya."
"Wah sayang banget lagi nggak ada Mbak. Mau baca yang lain aja?"
"Lagi pengen baca 'Maya' Mas," jawabku kecewa.
Yha! Ini kali ke dua kita bertemu dan kamu menyebut nama penulis kesukaanmu itu lagi, penulis keturunan Batak yang sulit keucap namanya. Aku selalu senang mengobrol denganmu. Setidaknya aku merasa kita satu frekuensi, ketika aku membahas tentang Aan Mansyur, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, kamu tahu.
Meski sering kali saat kamu menceritakan tentang penulis tempo dulu tak banyak yang kutahu, kamu tetap menghargai seleraku.

Jumat, 05 Juni 2015

Punggungmu

Aku tak mengingat benar wajahmu.
Aku ingat betul punggungmu.

Menahan Dari Keinginan Menjabarkan

Aku akan menyimpan perasaan ini.
Gusti, percayalah, tak akan kuungkapkan.
Apalagi kujelaskan.
Akan tersusun rapi.
Kepingan pertemun pertama hingga terakhir kali siang tadi.
Aku akan menjaganya.
Dari sebatas ingin memiliki.
Dari sebatas angan untuk bersama.
Aku ingin menahannya.
Dari rasa ingin menjabarkan.
Kalau Tuhan mengizinkan, akan tiba waktunya kan?