Salah satu keinginan yang pengen aku wujudin di
2013 adalah ketemu salah satu penulis favoritku, bang Darwis Tere Liye.
Dan akhirnya, kamis 6 Juni 2013 Alhamdulillah
aku dikasih kesempatan buat ikut seminarnya bang Tere di UGM.
Udah lama banget pengen ikut seminarnya bang
Tere. Mulai dari seminar yang di UNDIP, UNY. Dua-duanya terlewatkan gitu aja.
Udah sempet patah hati sebenernya.
Sampai akhirnya, di suatu siang (ciegitu) kakak
kelas SMA aku yang juga suka karya-karyanya bang Tere ngasih tau kalau bakal
ada seminarnya Beliau di UGM. Ya udah, langsung cap cus pesen tiketnya.
Tadinya, aku kira bang Tere orangnya kalem,
kebapakan gitu.. ternyata.....
Orangnya selow banget. Asik, lucu. Nggak ribet.
FYI, pas ngisi seminar, Beliau dengan santainya
pakai sandal jepit. Padahal dalam bayangan aku, bang Tere nantinya pakai
kemeja, jalannya kalem gitu. Taunya pas keluar, asik aja gitu pakai kaos,
celana jeans, kupluk, sweater yang dikalungin di leher dan, sendal jepit. Iya
sendal jepit.
Tapi kecenya, dari mulai kupluk, sweater, sampe
sendal jepitnya warnanya senada gitu. Hijau.
Nih.... :D
Kata-kata yang aku inget sampe pas nulis ini
adalah; ”Kita tidak akan pernah bisa mengalahkan waktu.”
Daleeeemm....
Oya, seminar yang diadain di UGM ini temanya;
‘Kekuatan Sebuah Pena’
Jadi talk show seputar dunia tulis menulis.
Di sini bang Tere berbagi tips buat kita-kita
tentang menulis.
Aku mau bagi tipsnya deh, supaya bermanfaat bagi
banyak orang.
Kata bang Tere lagi; ’menulis adalah menyebar
buah-buah kebaikan’
Ini ceritanya lagi mengamalkan kalimat itu.
Hehe.
Nih tipsnya.....
- Semua hal itu pada dasarnya
bisa menginspirasi kita untuk menulis.
Dimulai dari aktivitas kita
sehari-hari, hobby, maupun hal-hal menyakitkan dan menyedihkan yang kita alami.
Semuanya bisa jadi bahan inspirasi.
Cuman yang ditekankan bang Tere
di sini adalah, setiap penulis yang baik harus bisa memandang sesuatu dengan
sudut pandang yang spesial. Yaitu, sudut pandang yang bisa jadi tidak
dipikirkan orang lain.
Berpikir kreatif itu nggak
harus selalu orisinil. Katanya, perbanyaklah membaca buku. Saat kita membaca
sebuah karya, dan kita coba menulis. Dan saat itu gaya bahasa kita terpengaruh
gaya bahasa orang lain. Itu nggak masalah. Nggak masalah.
Berpikiran yang berbeda dari
orang lain. Berpikir yang tidak banyak dipikirkan orang lain. Dan berpikir
spesial itu tidak harus megah. Tidak perlu muluk-muluk. Sederhana.
·
- Setiap penulis itu selalu butuh amunisi.
Amunisi dalam hal ini apa?
Bahan tulisan. Tanpa bahan tulisan bang Tere mengibaratkan penulis seperti teko
kosong yang mencoba mengisi cangkir. Dipaksa bagaimanapun, cangkir tidak akan
pernah terisi. Jadi, kata-kata adalah senjata terbaik bagi seorang penulis.
·
- Dalam dunia tulis menulis, tidak ada tulisan baik, juga tidak ada tulisan buruk.
Yang ada adalah tulisan
tersebut relevan atau tidak dengan sang pembaca.
Bang Tere juga memotivasi kita
untuk membangun motivasi di dalam diri kita untuk menulis. Karena menulis juga
butuh motivasi. Ketika kita kehilangan motivasi tersebut, panggil kembali.
Karena motivasi yang kuat di dalam diri sangat berpengaruh.
 |
ini muka norak aku yg saking senengnya :)) *ignore*
kamis, 6Juni 2013
|