Pagi ini aku mulai berusaha lagi.
Berusaha menulis lagi.
Setidaknya aku berusaha jujur dengan aksara.
Karena tak mampu bicara.
Pagi ini, orang-orang merayakan natal.
Dan aku menunggu waktu berangkat kerja.
Masih ada dua setengah jam lagi untuk bercengkrama dengan laptop, headset, dan novel yang tak kunjung selesai kubaca.
Saat ini, Sufjan Stevens - "Death With Dignity" sedang membuat hatiku nyeri.
Entah, setiap kali mendengarnya, aku merasa damai sekaligus nelangsa.
Kata orang-orang pula, menulis adalah bentuk lain dari bicara.
Ada satu hal yang orang lain tak pernah tahu.
Aku bahkan berhenti meminta, oh tidak, lebih tepatnya mengurangi permintaan dengan Tuhan.
Aku malu.
Tak percaya diri.
Merasa tak tahu diri.
Kalau-kalau punya asa terlalu genap.
Kalau-kalau punya harap terlalu lengkap.
Aku berhenti bicara pada banyak orang.
Berhenti berbagi cerita pada banyak teman.
Berhenti berbagi luka pada Mama.
Kau perlu tahu, aku sebenarnya takut.
Aku takut tak lagi mempercayai siapapun.
Bahkan diriku sendiri.
Lalu salah seorang penulis bilang; salah satu tips untuk hidup bahagia adalah tidak lagi memendam perasaan.
Kau tahu apa responku ketika membacanya?
Aku tertawa keras, keras sekali.
Naif sekali penulis ini.
Oh Tuan Penulis, tak sesederhana itu.
Atau aku yang membuatnya tak sederhana?
Memutar-mutar jalur di daerah yang sama?
Apa benar itu yang kulakukan?
Kalau begitu, maafkan.
Baiklah, karena aku telah salah, akan kuturuti kata-katamu.
Mulai sekarang aku akan menulis lagi.
Bicara tanpa suara.
Memeluk aksara.
Mencumbu rasa.
Jujur pada diri sendiri.
Bahwa mengakui jika batin nelangsa adalah tak masalah.
Sungguh tak apa-apa.
Baiklah, akan kulakukan yang kau katakan Tuan Penulis.
Untuk tak lagi memendam segalanya sendirian.
Lalu, apa lagi?
Ada hal lain yang harus kujalani?
Kau punya tips lain untuk bahagia duhai Tuan Penulis?
Jumat, 25 Desember 2015
Kamis, 24 Desember 2015
241215
Tuan, pesonamu menyengat.
Aku takut tak kuat.
Lalu aku berbalik arah, undur diri, melarikan diri atau apapun yang bisa membuatku menghindarimu secepat kilat.
~Syafira yang...............
241215
Duhai Diri
Aku tidak menyukai banyak hal.
Diriku sendiri salah satunya.
Aku tak begitu suka nasi dingin.
Nasi yang dimasak terlalu kering juga.
Aku tak suka pinggiran roti tawar,
aku tak pernah memakannya.
Aku tak pernah makan ketupat dan opor kala lebaran.
Aku tak suka bawang goreng.
Aku tak suka minuman bersantan.
Aku sama sekali tidak pernah makan daging kambing.
Aku paling anti.
Bakso urat pun aku tak suka.
Meskipun di dunia ini bakso masuk ke dalam daftar mankanan paling ngangenin.
Makanan yang tidak pedas sama sekali tak lirik-able.
Aku pecinta pedas garis keras. Heuheu.
Aku hanya bisa tidur dengan lampu mati.
Lampu menyala waktu tidur bukan pilihan yang tepat bagiku.
Aku tak suka hujan.
Bikin demam.
Sementara banyak pekerjaan harus diselesaikan.
Sendirian.
Iya, sendiri.
Aku tak terlalu tertarik mngikuti perkembangan informasi mengenai; ini pacarnya itu, si A habis putus sama B. Sama sekali bukan urusanku.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku paling jago mendeteksi kebohongan orang. HAHAHA.
Aku tak terlalu tertarik dimanfaatkan.
Meski sering terjadi.
Tak bisa melarikan diri.
Terjebak pada rasa iba yang kadang-kadang batasanya terlampaui.
Wah ya, aku payah sekali.
Orang yang tak suka pada dirinya sendiri sok banyak teori.
Duhai diri.
Diriku sendiri salah satunya.
Aku tak begitu suka nasi dingin.
Nasi yang dimasak terlalu kering juga.
Aku tak suka pinggiran roti tawar,
aku tak pernah memakannya.
Aku tak pernah makan ketupat dan opor kala lebaran.
Aku tak suka bawang goreng.
Aku tak suka minuman bersantan.
Aku sama sekali tidak pernah makan daging kambing.
Aku paling anti.
Bakso urat pun aku tak suka.
Meskipun di dunia ini bakso masuk ke dalam daftar mankanan paling ngangenin.
Makanan yang tidak pedas sama sekali tak lirik-able.
Aku pecinta pedas garis keras. Heuheu.
Aku hanya bisa tidur dengan lampu mati.
Lampu menyala waktu tidur bukan pilihan yang tepat bagiku.
Aku tak suka hujan.
Bikin demam.
Sementara banyak pekerjaan harus diselesaikan.
Sendirian.
Iya, sendiri.
Aku tak terlalu tertarik mngikuti perkembangan informasi mengenai; ini pacarnya itu, si A habis putus sama B. Sama sekali bukan urusanku.
Aku tidak suka dibohongi.
Aku paling jago mendeteksi kebohongan orang. HAHAHA.
Aku tak terlalu tertarik dimanfaatkan.
Meski sering terjadi.
Tak bisa melarikan diri.
Terjebak pada rasa iba yang kadang-kadang batasanya terlampaui.
Wah ya, aku payah sekali.
Orang yang tak suka pada dirinya sendiri sok banyak teori.
Duhai diri.
Langganan:
Postingan (Atom)