Siang itu aku datang lagi ke satu-satunya toko buku yang kurasa nyaman di kota kecil ini. Aku asik membaca sampul belakang sebuah buku yang kalau tidak salah berjudul 'Butterfly' yang sayangnya kulupa siapa penulisnya. Lalu tak sengaja aku menoleh saat kamu baru saja tiba. Seragammu masih tertutup jaket hitam. Aku tahu mata kita bertemu, tapi aku tak berniat menyapamu sekadar tersenyum simpul. Aku belum juga menemukan novel yang pas dengan seleraku. Aku berpindah ke rak yang lain mengamati beberapa judul yang menarik. Menyenangkan sekali berada di surga dunia, toko buku. Mencumbu satu persatu buku. Sampai-sampai berjongkok aku menikmati setiap detik di toko buku. Aku bukan tak sadar kalau kamu beberapa kali mondar-mandir menyalakan saklar lampu yang jelas-jelas sudah menyala. Tertawa kecil aku melihatnya. Lalu kamu menyapaku, "Cari buku apa Mbak?."
"Ayu Utami Mas. Belum ketemu, itu komputernya mati. Kalau nyalain takut salah," aku berjalan mengekormu yang sikap mengecek komputer.
Sebentar kamu menoleh, menatapku lalu tersenyum.
"Kamu yang beberapa hari lalu ke sini malem-malem itu kan?"
Aku ingat Mas, sungguh aku mengingatmu tapi justru yang keluar dari mulutku adalah, "Ha? Oiyaaaa benar Mas," berpura-pura tak langsung mengingatnya. Kamu mengetikkan nama penulis yang kusebut.
"Ayu Utami nggak ada stoknya semua Mbak. Mau baca yang apa?"
"Maya."
"Wah sayang banget lagi nggak ada Mbak. Mau baca yang lain aja?"
"Lagi pengen baca 'Maya' Mas," jawabku kecewa.
Yha! Ini kali ke dua kita bertemu dan kamu menyebut nama penulis kesukaanmu itu lagi, penulis keturunan Batak yang sulit keucap namanya. Aku selalu senang mengobrol denganmu. Setidaknya aku merasa kita satu frekuensi, ketika aku membahas tentang Aan Mansyur, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, kamu tahu.
Meski sering kali saat kamu menceritakan tentang penulis tempo dulu tak banyak yang kutahu, kamu tetap menghargai seleraku.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar