Kamis, 13 Februari 2014

Kumulai dengan Memaafkan Diriku Sendiri

Kata orang, sabar itu bukan pilihan, tapi sabar itu keputusan.
Sepertinya kalimat tadi benar.
Maka, jika ada yang bilang, sabar itu ada batasnya.
Mungkin orang itu tidak memutuskan untuk bersabar lebih lama.
Mungkin saja.
Tapi seringnya, saya lebih banyak membatasi sabar itu sendiri secara tidak langsung.
Dengan apa? Dengan mengaduh, mengeluh.
Sementara sebenarnya, saya masih bisa bertahan dengan diringi sabar lebih lama lagi.
Saya kerap mengumpat diri saya sendiri.
'Kenapa sabarmu sebatas itu?' kata hati saya pada diri saya sendiri.
Apa kekuatanmu seminim itu untuk berjuang lebih keras lagi?
Apa kemauanmu untuk melawan keterbatasan hanya segitu?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali muncul saat saya terkepung sunyi.
Waktu saya sendiri.
Pada saat saya berpikir menerawang kejadian yang telah ada.
Sebagian tentang kesedihan, kekecewaan juga kehilangan.
Pikiranku melompat-lompat tak beraturan.
Dada mulai sesak.
Aku takut perasaan marah terhadap diriku sendiri tak terkendali.
Maka mataku memejam.
Menyadari bahwa mungkin ada yang kurang tepat.
Aku tak bilang ada yang salah.
Aku harus memulai awal yang baru.
Awal yang membawaku bangkit kelak.
Kumulai dengan.... memaafkan diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar