Senin, 20 Mei 2013

My Key Survival



Dalam sakit, luka, gelap, juga kecewa.

Tiap orang pasti mempunyai sosok yang ia jadikan alasan untuk bertahan.

Baik, kusebut mereka; ‘key survival’ ; kunci untuk bertahan hidup.

Mereka mungkin saja orang tua, keluarga, sahabat, atau kekasih.

Bagi saya, ‘mereka’ adalah orang tua, keluarga, dan sahabat yang luar biasa.

(jelas pacar nggak jadi key survival, orang nggak punya :p)

Setelah ngobrol panjang lebar dengan seorang sahabat, saya menemukan sesuatu.

Di usia-usia labil ini, di masa pencarian jati diri ini.

Di saat hati dan rasa sedang tak menentu seperti musim di negeri kita ini.

Saya menyadari satu hal

Setiap orang pasti mempunyai sesuatu yang dipendam dalam hati.

Setiap orang pasti pernah merasa sendiri.

Setiap orang pasti pernah merasa betapa dunia sedang tidak bersahabat.

Setiap orang pasti pernah merasa kecewa terhadap satu hal yang tidak sesuai harapan.

Dan di atas segala perasaan yang pernah ada.

Di atas semua sakit dan kesedihan yang tercipta.

Kita semua butuh ‘mereka’.

Yang perlu dilakukan hanya duduk diam dan mendengarkan.

Sesekali membalas tatapan, hanya untuk meyakinkan betapa diri kita hebat.

Sesekali menepuk pundak, hanya untuk memberitahukan bahwa kita bisa melewati segala panas terik kendala hidup.

Mereka, sosok yang pada akhirnya memeluk kita, menjalarkan kekuatan dalam diri. Kemudian menangis, ikut merasakan tiap luka dan kecewa yang mungkin saja membuncah dalam sukma.

Mereka itu ada. Mereka itu nyata.

Disadari atau tidak, mereka yang menguatkan kita.

Mereka yang membantu kita berdiri lebih tegak.

Mereka yang menyadarkan kita bahwa, kita tidak pernah sendiri.

Mereka yang memberitahukan bahwa dunia ini indah.

Dunia ini penuh warna.

Dan berbagai rasa yang mendera, sungguh hanya bagian kecil dari semesta yang maha luas ini.

Apapun yang kita miliki saat ini.

Apapun yang kita jalani sekarang ini.

Dan apapun rasa yang mendominasi hati.

Kita patut bersyukur bahwa meski kita merasa kita ini bukan siapa-siapa.

Lihat, di sekitarmu, di sekelilingmu.

Masih ada ‘mereka’, sosok yang setulus hati mencinta. Yang hanya ingin suatu saat kita meraih bahagia yang sejati.

Maka, berbahagialah, ‘mereka’ masih ada.

Mereka di sisimu.

Meski tangan tak selalu nyata menggenggam, tapi doa selalu menjaga.

Meski raga tak selalu hadir, tapi doa selalu menemani.

Bahagiakan mereka.

Balas cinta itu dengan segenap kemampuan yang kamu miliki.


Sore. 11mei2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar