Kamu pernah merasakan debar bahagia sekaligus hantaman pilu dalam satu waktu? Jika belum, apakah kamu mau tahu rasanya? Perasaan semacam ini akan membuatmu makan tak enak, tidur tak nyenyak. Sungguh. Aku kini merasakannya.
Ketika kamu kehilangan kesempatan sebelum kamu sempat memulainya, ini jauh lebih menyesakkan dibanding ketika kamu berusaha dan gagal. Setidaknya kamu pernah dan sempat mencoba.
Memang ada beberapa hal dalam hidup ini, yang kamu belum sempat sekalipun menggenggamnya, namun kamu telah tiba di waktu kamu harus melepaskannya. Tanpa pernah berhak memiliki dalam nyata.
Biar, biarkan segalanya terjadi. Hal-hal dalam hidupmu, biarkan mereka datang.
Bahkan kejadian-kejadian yang tak pernah kamu harapkan datang.
Mereka tetap harus datang, biar kamu tahu hal-hal yang belum pernah kamu ketahui, hal-hal yang sebelumnya tak kamu pahami.
Hidup akan dan harus terus berjalan. Sekeras apapun usahamu untuk menghentikan rodanya.
Upayamu hanya berbuah sia-sia. Karena hidup akan terus menggelinding dan membawa serta kamu ke dalam putarannya.
Hujan kala kemarau ini biar mengguyur gersangmu dan lukamu. Supaya kamu tak kering kerontang kehausan. Hujan kala kemarau kali ini, biar meluruhkan semua kepedihanmu.
Menangislah jika kamu mau.
Menangislah bersama hembusan angin yang setia menemanimu.
Menangislah bersama langit yang terus menatapmu.
Menangislah bersama semua sakitmu, biar bias, lalu musnah, hilang.
Dan semoga tak berbekas.
~Hari terakhir di September duaributigabelas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar