berikut adalah cuplikan-cuplikan yang ada dalam karya-karyanya:
“Orang-orang yg merindu,
namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih
senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi
doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan
yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik.”
—
|
Darwis Tere Liye
|
“Bahwa hidup harus
menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang
benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa
penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat
kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
—
|
Tere Liye, Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin.
|
“Walau digengam kuat,
andai ia bukan milik kita, ia terlepas juga. Walau ditolak ke tepi, andai ia
untuk kita, ia mendatang juga. Itulah namanya jodoh”
—
|
Tere Liye
|
“Terkadang dalam banyak
keterbatasan, kita harus sabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus
melakukan apa yang bisa dilakukan”
—
|
Tere Liye
|
“Perasaan itu tidak
sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah
jelas bagai bintang dilangit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan
rumus matematika. Perasaan adalah persaan.”
—
|
Pak Tua dalam Kau, Aku, dan Sepucuk
Angpau Merah oleh TERE LIYE
|
“Perasaan yang terpendam
juga bisa dibilang doa, bukan?”
—
|
Tere Liye- Moga Bunda Disayang Allah
|
“Orang yang memendam
perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua
kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan
banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak
tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”
—
|
Tere Liye
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar